Kutipan Bai Hua Fo Fa Jilid 4, Bab 31, Seorang Praktisi Buddhis yang baik, tidak akan memandang rendah orang lain

*Kutipan Bai Hua Fo Fa Jilid 4, Bab 31, Seorang praktisi Buddhis yang baik, tidak akan memandang rendah orang lain*

Hari ini, kalian bisa duduk disini mendengarkan Shifu membabarkan Dharma, mendengarkan wejangan Shifu, ini adalah berkah kalian. Entah suatu hari nanti tidak bisa lagi belajar Dharma, maka disebut tidak lagi memiliki berkah.

Shifu memberitahukan kepada kalian, walaupun malapetaka yang akan terjadi pada kita itu datangnya sekarang atau nanti, tapi sebenarnya malapetaka itu sebenarnya sudah kita hadapi sekarang ini, yaitu Malapetaka mental.

*[Penjelasan:* Malapetaka yang umum kita ketahui adalah bencana alam seperti mencairnya es karena perubahan iklim, bencana rumah kaca, gempa bumi dan lain-lain sebagainya.

Sedangkan untuk manusia, bencana yang dimaksud adalah bencana mental, dan bencana ini sudah terjadi kepada setiap orang.

就算大灾难现在不来或晚点来,这个灾难是指世间万物的灾难如:冰川融合、温室灾害、地震等自然灾害。

可是其实对人类来说,其实真正的大灾难就是心里的灾难,而这个灾难已经发生在每个人身上了]

Malapetaka mental yang dimaksud adalah diri sendiri dan masa lalu, sepanjang hari tidak bisa berpikir jernih, sedih, ingin bunuh diri, dan lain-lain sebagainya.

Jangan mengira malapetaka tidak akan kita hadapi, lalu boleh merasa senang. Harus memahami, depresi dan berkepanjangan, sebenarnya itu berarti kamu sudah mendapatkan sebuah malapetaka. Misalnya, seseorang yang tiba-tiba terdiagnosis terkena penyakit kanker, bukankah itu berarti dia sudah mendapatkan malapetaka?

Hari ini Shifu akan lanjut menceritakan kalian tentang *Melatih diri.* Jika pelatihan diri kalian baik, itu berarti orang ini memiliki kemampuan.

Karena orang yang melatih diri, *Pertama, dia tidak akan tidak memandang rendah orang lain. Merasa dirinya sangat hebat, umurnya masih muda, berpendidikan tinggi, memiliki sedikit kekayaan, semua hal yang dia miliki merasa adalah modal dia, yang kemudian memandang rendah orang lain.*

Orang yang tidak melatih diri pun, sering memandang rendah orang lain, orang yang tidak belajar Dharma sering membicarakan orang lain.

*Hanya orang yang benar-benar memahami akan sebab akibat lah, baru tidak akan memandang rendah orang lain.*

*Tatapan mata orang yang belajar Dharma memiliki pandangan mata welas asih, sangat welas asih, dan tidak memiliki pandangan mata memandang rendah orang lain.*

*Melatih diri adalah pelatihan yang dijalankan dengan menderita.*

Seseorang yang menderita baru bisa mengerti melatih diri dan melatih hati, jika dia tidak menderita, maka dia tidak akan bisa melatih hati, oleh karena itu disebut *melatih diri itu dijalankan melalui penderitaan.*

Orang yang memiliki pahala dan melatih diri dalam penderitaan, di dalam hatinya tidak akan memandang rendah orang lain.

Jika hati kamu baik kepada semua orang, maka kamu tidak akan memandang rendah orang lain.

Jika kamu memandang rendah orang lain, maka orang ini tidak baik-baik melatih hatinya.

Jika seseorang yang memiliki hati yang tulus datang untuk bersembahyang kepada Buddha, tapi jika sikap dan perlakuan orang itu kepada orang lain sembarangan, memandang rendah orang lain, tidak tulus, maka dia tidak belajar Dharma dengan baik, ini berarti telah menghujat Bodhisattva, ini adalah karma.

Sama dengan kalian para Seketariat, disini kalian semua mewakili Bodhisattva, tidak peduli apakah hari ini kalian mengetik, menjawab telp, semua perbuatan dan sikap kalian harus layak terhadap Bodhisattva, sikap kalian harus layak kepada semua makhluk hidup.

Karena kalian adalah seorang Praktisi Buddhis, jika kalian tidak welas asih, memandang rendah orang lain, ini artinya tidak melatih diri dengan baik, dan perbuatan sikap kalian membuat orang lain kesal.

Melatih diri dalam penderitaan adalah harus bisa menahan diri sendiri, menekan diri sendiri, inilah yang disebut dengan bisa tahan dalam penderitaan, barulah kalian bisa berhasil.

*Harus bisa merasa bahagia dalam penderitaan.* Karena setiap orang memiliki sofat keBuddhaan, mereka semua adalah Bodhisattva, mereka semua adalah Buddha.

Jika kamu bersikap galak kepada mereka, apakah layak bersikap seperti itu? Bahkan kamu pun tidak boleh memandang rendah binatang, tidak boleh memarahinya.

Jika kamu terus menerus mengatakan ucapan buruk kepada sebuah gelas berisi air, setelah air ini beku, bentuknya es-nya akan terlihat jelek;

Tapi jika kamu terus mengatakan ucapan baik kepada air di dalam gelas, setelah membeku, maka gambar yang akan terbentuk akan sangat indah.

你们今天能够坐在这里好好地跟随师父学佛法,听师父的开示,这是你们的福气。等到哪一天学不到了就是没有福气了。师父告诉你们,就算大灾难现在不来或者晚一点来,而人真正的大灾难早就来了,那就是心里的灾难。心里的灾难就是自己和自己过不去,天天想不通,难过,自杀等。不要以为天灾人祸还没有到自己身上来,就觉得很开心了。要知道长期的忧郁、难过,实际上你身上的灾难已经来了。比如一个人突然检查出来生了癌症了,是不是大灾难来了?

师父今天继续给大家谈修行。我们天天说修心、修行,实际上修行是一种功夫。如果你修行修得好,说明这个人有功夫。因为修行的人,第一不会常常的轻视人家。很多人以为自己不得了,年纪轻,有学历,又有一点钱,什么都可以作为他的一种资本,所以就轻视人家。没有修学的人连眼睛也会经常看不起人家,没有学佛的人才会经常讲人家。只有真正学佛明白这些道理的人才不会轻视人家。所以学佛的人看人是一种慈悲的眼神,是慈悲的,而不是轻视人家的眼睛。

修行要苦修。一个人苦了才知道修行修心,他若不苦是不会修心的,所以叫苦修行。苦修功德的人心里就不会轻视人家。如果你心中对人家是很善良的,你就不会轻视人家;如果轻视人家,这个人就不会好好修心的。如果一个人来拜佛菩萨,而且是怀着一颗虔诚的心来拜,如果他对人家随随便便,轻视人家,不诚心,他就是没有好好学佛,就是对菩萨的亵渎,就是有孽障。同样,因为你们秘书处每个人在这里都代表着菩萨,不管你们今天在这里打字也好,听电话也好,你们所做的每一个行为都要对得起观世音菩萨,对得起众生。因为你们是学佛人,如果你们不慈悲,看不起人家,这就是没修好,才会感觉人家烦。苦修是要克制住自己,压制住自己,那才叫吃苦,才能成功。要以苦为乐。因为每位众生都有佛性,他们都是菩萨,他们都是佛。对人家那么凶,对得起人家吗?连动物都不能轻视,都不能去骂。如果你对着一杯水不停地说不好听的话,等这杯水结了冰之后,它的图形是很难看的;如果你对着一杯水不停地说好听的话,等它结了冰之后,它形成的图案是很漂亮的。

白话佛法第四册,31