Wenda20191215 05:16
*[Jika tidak memenuhi syarat jangan berikrar Qing Xiu, Menjaga sila Asusila; Bagi orang yang tidak berikrar menjaga 5 sila apakah boleh berikrar Menghormati Ajaran Guru]*

Telp Wanita: Di dalam 5 sila ada salah satu sila mengenai tidak boleh berbuat asusila, tetapi banyak teman sedharma yang sudah menikah, lalu suami tidak melatih diri, mungkin akan ada “permintaan” dari lawan jenis.

Dalam kondisi seperti ini, jika tujuannya bukan untuk melahirkan seorang anak, apakah termasuk sudah berbuat asusila?

Master: Dalam ajaran Buddha, seperti ini pemahamannya, selain memiliki tujuan untuk memiliki anak, selain dari itu, jika dia melakukan ini demi bersenang-senang, semuanya termasuk Asusila. Karena itu adalah sebuah kesenangan, dan bukan untuk mendapatkan keturunan, ini adalah dua konsep yang berbeda. Mengerti?

Telp: Benar. Oleh karena itu, walaupun sepasang suami istri yah sah, maka juga termasuk asusila?

Master: Sudah pasti.
Saya berikan contoh, sepasang suami istri yang sah, setiap hari melakukan perbuatan seperti itu, coba kamu bayangkan, bukankah sama dengan binatang? Sangat menjijikan! Jika berlebihan melakukannya bukankah itu sudah tidak normal?

Telp: Benar.

Master: Segala apapun itu, jika berlebihan bukankah itu tidak normal?

Telp: Benar.

Master: Kamu bermain kartu lalu berkata “Ini untuk menghibur diri, untuk mengisi waktu luang”, ini termasuk normal;

Tetapi, jika kamu sepanjang hari bermain kartu untuk berjudi, bukankah itu tidak normal?

Telp: Benar.

Master: Apakah yang saya katakan benar?

Telp: Benar, apa yang Shifu katakan benar. *Ada seorang teman sedharma yang suaminya tidak melatih diri, lalu dia berikrar untuk tidak berbuat asusila, tetapi suaminya senang mengajak dia untuk berhubungan, apakah ini termasuk melanggar? Karena dia berikrar untuk tidak berbuat asusila.*

Master: Sudah pasti melanggar ikrar. Jangan berikrar untuk hal ini! Tingkat pelatihan suami masih belun sampai, apa yang kamu ikrarkan?

Bukankah kamu (teman sedharma) sedang mencelakai dia (suami)? Begitu dia (teman sedharma) melakukannya sekali, maka suaminya akan kena sial sekali.

Telp: Oh, itu artinya suami memaksa dia (teman sedharma) untuk melanggar sila, oleh karena itu suami juga ada karma buruknya?

Master: Iya, suami memaksa dia (teman sedharma) untuk melanggar sila, itu sama saja suami lagi-lagi melanggar sila.

Telp: Dua-duanya bersalah?

Master: Iya. Coba bayangkan, ini sama seperti suami memaksa seorang perempuan yang sudah menikah, perempuan ini sudah mengatakan “Saya sudah berumah tangga”, tapi setiap hari dia memaksanya melakukan hal itu, bukankah dunia alam bawah akan mencatat perbuatannya?

Telp: Benar.

Master: Bukankah dia (teman sedharma) telah mencelakai suami? Dia (teman sedharma) masih belum bisa berikrar hal ini, dia masih harus menjalani kehidupan manusia.

Telp: Iya.

Master: Sedangkan itu adalah tingkat pembinaan setinggi Bodhisattva.

Oleh karena itu, *Saya ingatkan kepada kalian untuk ketiga kalinya, jangan sembarang berikrar untuk hal yang tidak sanggup dilakukan.*

Telp: Seperti dia yang sudah berumah tangga, mereka harus berhati-hati dalam hal melakukan ikrar untuk Qing Xiu dan Asusila?

Master: Benar.

Telp: Karena ini adalah masalah dua orang.

Master: Harus lihat apakah jodoh kamu sudah sampai apa belum, dan ini bukanlah masalah pribadi.

Orang yang sudah melepaskan diri dari duniawi, dia bisa menentukan apa yang dia ingin lakukan, barulah dia melepaskan keduniawiannya.

Jika kamu ingin melepaskan seluruh anggota keluarga kamu, jika kamu melepas keduniawiannya, dari segi sosial, kamu terlihat tidak bertanggung jawab kepada keluarga.

Jangan karena tingkat pembinaan kamu sudah tinggi, lalu kamu tidak mempedulikan sosial, dan ini akan memberikan dampak buruk kepada sosial luas.

Dan sudah pasti, kita sebagai praktisi Buddhis memahami dia, dia sudah sepenuhnya melepaskan keduniawiannya, tetapi dari segi perspektif masyarakat luas, masyarakat akan memandang ajaran Dharma sebagai ada sebuah perbedaan.

Telp: Benar, saya sudah mengerti. Oleh karena itu, bagi orang yang tidak bisa menjaga 5 sila, dia boleh berikrar “Menghormati Ajaran Guru”, tetapi mungkin hasilnya tidak akan sebaik orang yang menjaga 5 sila? Mungkin hasil dari pahala…..

Master: Benar, kamu bisa berikrar “Menghormati Ajaran Guru”, ini boleh ikrar, karena kamu tidak melihat hubungan ini dengan Dharma secara luas.

Umumnya, untuk “Menghormati Ajaran Guru”: Menghormati Guru, Menghormati Shifu, Menghormati ajaran Buddha Dharma, belajar Dharma melatih hati dengan baik, cakupannya sangat luas.

Jika ingin memaksakan untuk menggabungkan dua hubungan ini, maka Shifu katakan jangan berikrar (untuk tidak) Asusila, meminta kalian untuk tidak …… berikrar hal yang tidak bisa kalian lakukan, mungkin termasuk melanggar nyawa dan keingingan Shifu, tetapi masalahnya adalah keberadaan “Dia” ini sangat jauh sekali.

Telp: Terima kasih Shifu.

📣📣📣条件不成熟不要轻易许愿清修、戒邪淫;未守五戒可否许愿尊师重道⁉

女听众:五戒里有一个不邪淫,但是现在有的同修结婚了,先生不修行,可能会有一些那方面的要求。这种情况,不是为了生孩子,她算邪淫吗?

台长答:从佛教界讲,是这样理解的,就是说除了生孩子,其他的基本上你是要取乐,全部都是邪淫。因为你是一种取乐,并不是作为比方说养育后代,那是不一样的概念。听得懂吗?(是的。所以说就算合法夫妻之间,也还是淫?)那当然。

我举个简单例子好了,合法夫妻两个人天天做那种事情,你说说看,跟动物一样吗?跟畜生一样吗?多恶心啊!淫荡过头了是不是邪的?(对)任何东西过头了是不是叫邪了?(是的)你打牌玩玩,你说“我娱乐娱乐,消遣消遣”,这不算邪的;但是你拿这个牌整天在赌博,你算不算邪了?(是)我讲得对吗?(对,师父说得对。有一个同修的情况就是她老公不修行,她许愿了不邪淫,但是她老公喜欢跟她做这方面的事情,那她算不算违愿?因为她许愿了不邪淫)那肯定违愿了。

不要去许啊!先生没有到达这个境界,她去许什么了?她不是害他?她做一次,她先生就会倒霉一次(哦,他等于逼着她破戒,所以她先生也有业?)嗯,他逼着她破戒,而且等于她老公又犯戒了(两人都犯戒了?)嗯。你想想看,就像他去逼着一个良家妇女一样的,她已经说“我要做良家妇女”了,他天天逼着她做这种事情,地府里不跟他记账啊?(是的)她不是害他啊?她做不到,现在只能做人事了(嗯)那个都是菩萨的境界。

所以我再三跟你们说,做不到不要去随便许愿(像她这种已经结了婚的人,对于许愿清修、许愿不邪淫一定要谨慎?)是(因为这是两个人的事情)要看自己的缘分,又不是你一个人的事情。

出了家的人,他一个人能够自主了,他才出家的。你要把家里全部抛弃了,你出家了的话,从社会道义上来讲,你对家庭不负责任。你不能因为你的境界高了之后,你对社会一下子完全不管,这在社会上讲起来会造成很多负面影响。当然,我们学佛人理解他,他已经彻底抛弃了,但是对人家来讲,人家会对佛法产生一种分别意识的(对,明白了。所以说不能守五戒的人,他也可以许愿尊师重道,但是可能效果没有许愿守五戒的人好?可能效果跟功德……)对啊,你可以尊师重道,这个可以许的,因为你不能把它联系得这么广泛。

一般地,尊师重道讲起来:尊重老师,尊重师父,很尊重佛道,好好学佛修心,这是泛泛来讲的。你硬把它联系在一起,那师父叫你不要邪淫,叫你不要这个……你做不到,那也可以算违命师愿,但问题是它毕竟是离得比较远的(感恩师父)
Wenda20191215 05:16

条件不成熟不要轻易许愿清修、戒邪淫;未守五戒可否许愿尊师重道⁉️