[Buku] BHFF Guang Bo Jiang Zuo, Bab 6 Mempelajari Ajaran Dharma dan hukum harus mempelajarinya dari akar dasarnya

*Buku 《BHFF Guang Bo Jiang Zuo》*
*Bab 6 Mempelajari Ajaran Dharma dan hukum harus mempelajarinya dari akar dasarnya*
https://xlch.org/category/book/fofa/guangbo1/384.html?t=1583575733342

Banyak pendengar yang senang belajar Dharma dan hukum, sebenarnya yang terpenting untuk mempelajari itu semua adalah belajar dari akarnya. *Akar apa yang dimaksud?* Yaitu adalah sifat dasar manusia. Sifat dasar manusia harus baik hati, barulah orang ini bisa mempelajari Dharma dengan baik. Jika sifat dasar orang ini buruk, maka dia tidak akan bisa mempelajari Dharma dan hukum dengan baik.

Dalam dan luasnya Ajaran Dharma bisa diibaratkan seperti samudera, luas dan tak terbatas. Ajaran Dharma tidak terbatas, hanya Buddha dan Buddha yang dapat mengukur asalnya. Dengan kata lain, kamu hanya bisa mengetahui kedalaman Dharma ketika kamu belajar Dharma, ketika kamu tidak belajar Dharma, maka kamu tidak akan memahami seberapa luas dan dalamnya Dharma.

Biasanya dikatakan, Universal ini dibagi menjadi 10 dunia Dharma, 9 diantaranya berada di Dunia Dharma ini, terdapat banyak Orang suci, ada beberapa manusia biasa, ada beberapa hal yang mengharuskan kita bersikap ketat, dan ada beberapa hal yang mengharuskan kita untuk menjadi bingung.

Kita berada di dunia manusia, ada beberapa orang yang seumur hidupnya merasa dirinya sangat pintar, ada beberapa orang yang seumur hidupnya sangat bodoh, ada beberapa orang yang konyol, menjalani hidupnya dengan sia-sia, ada orang yang terlalu pintar, ada orang yang merasa dirinya seperti orang suci,sebenarnya semua ini adalah sebagian dari energi dalam Dharma.

Dalam proses mempelajari Dharma dan hukum, jika tidak mempelajarinya dengan baik, maka itu sangatlah bodoh; Jika mempelajarinya dengan baik, maka itu seperti orang suci, sangat pintar, tetapi tidak cukup kebijaksanaannya. Semua ini disebebakan karena kamu hanya mempelajari sebagian kecil dari Ajaran Dharma. Untuk benar-benar mempelajari Dharma, maka kamu harus mendalaminya, yaitu harus mempercayai Ajaran Dharma yang benar, harus sepenuh hati dan jiwa masuk ke dalamnya, baru bisa mempelajari lebih banyak hal.

Sama seperti seekor gajah dan nyamuk, satu besar, satu kecil, Sang gajah bisa meminum air dari pinggir laut, nyamuk pun juga bisa, tetapi siapa diantara mereka yang meminumnya lebih banyak? Dari tampak luar mereka terlihat sedang meminum air, tapi jumlah air yang mereka minum tak sama, tetapi air laut tak akan ada habisnya,

Kita belajar Dharma dan hukum, bisa mempelajari banyak pengetahuan dan kebijaksanaan, tetapi seberapa banyak kita bisa mempelajari Ajaran Dharma yang tak terbatas ini? Kecuali kita bisa mengumpulkan energi samudera ini, barulah memungkinkan kita untuk menyerap air samudera yang tak terbatas ini. Jika tidak, hanya bisa mencicipinya saja, dan tak benar-benar bisa mendalaminya.

Disaat seseorang tak bisa memahami Ajaran Dharma, hanya bisa mengatakan dia belajar Dharma dengan baik, Dharma ini bisa membantu kita menghilangkan rintangan. Tetapi bagaimana caranya, dimana akarnya?

Kita harus memahami asal mulanya, darimana datangnya sifat buruk itu.

Sama seperti Pengobatan Chinese yang mengobati penyakit terlihat tak berguna, harus mencari akar penyakitnya.

Jika hanya mengobati kepala ketika sakit kepala dan mengobati kaki jika kakinya sakit, tetapi tidak mengetahui penyebab sakit kepala dan kakinya, yaitu melakukan pemeriksaan EEG, CT dan lain-lainnya, masih tidak akan mengobati akar penyakitnya.

Oleh sebab itu, Praktisi Buddhis, Menjadi seorang manusia, Apakah mereka benar-benar menguasai akar dasarnya, itu sama seperti seekor gajah dan samudera, atau seperti nyamuk dan airnya, mereka hanya meminum sebanyak yang mereka butuhkan lalu pergi, yang dimana hanya mengerti sedikit pengetahuannya saja.

Banyak orang yang pergi ke DFT GYT untuk bersembah sujud pun juga demikian, membuat janji untuk bertemu dengan Master, dia mengatakan pekerjaannya tak lancar, meminta Master mengajarkan bagaimana merubah keadaannya dia.

Master mengajarkan dia untuk membaca paritta, dan ketika dia sudah mendapatkan sebuah pekerjaan, dia tak lagi membaca paritta.

Coba kalian bayangkan, melakukan hal seperti ini, apakah pekerjaannya bisa dia lakukan dengan baik? Kehidupab manusia tidaklah kekal, jika tidak memahami untuk menyelesaikan masalah dari akarnya, jika tidak mengetahui apa alasan tidak bisa menemukan pekerjaan, jika tidak memahami mengapa di kehidupan ini sangat menderita dan susah, bayangkan, apakah bisa menyelesaikan masalah dari penderitaan hidup ini? Bisa menyelesaikan masalah karena tidak mendapatkan pekerjaan? Bisa menyelesaikan masalah percecokan antara seorang ibu dan anaknya? *Harus mendalami ajaran Dharma dan tak hanya mencicipinya saja.*

Master akan menjelaskan kepada kalian sebuah konsep sederhana. Misalnya, orang lain memberikan kita sepiring makanan enak, apakah kamu tahu bagaimana dia memasaknya? Menaruh berapa banyak minyak, gula dan air, apakah digoreng atau dikentalkan, dimasak dengan seberapa besar apinya, semua ini adalah satu set prosesnya.

*Jika hanya mengerti untuk memakannya, itu sama seperti mengambil buku paritta dan hanya mengetahui untuk membacanya, tapi tidak memahami penggunaan yang sebenarnya, caranya, tidak mengetahui pondasinya, tidak mengerti alasan sebenarnya dalam mempelajari Dharma, Apakah dengan begini benar-benar bisa memahami Inti Ajaran Dharma, benar-benar bisa menyelesaikan semua permasalahan sampai selesai kah?*

Fófǎ nǎi yīqiè zhòngshēng de xīn běn jù zhī fǎ (佛法乃一切众生的心本具之法) , artinya, Ajaran Dharma yang sebenarnya terletak di dalam hati setiap orang, adalah sifat dasar setiap orang. Jika seseorang bisa memahami sifat dasarnya, maka dia telah memahami Ajaran Dharma.

Ada satu kalimat dari Konfusius, “Awal dari manusia, adalah memiliki hati nurani.”

Awal dari manusia bukanlah berarti disaat ketika kita masih bayi, tetapi disaat sifat dasar kita belum memulai rintangan ini, Ini berarti bahwa sifat manusia yang paling awal adalah baik. Sama seperti Sang Buddha Sakyamuni di bawah pohon Bodhi yang mencerahkan “Semua makhluk hidup memiliki sifat Kebuddhaan”.

*Banyak para pendengar yang baru mempelajari Dharma, mungkin tidak akan mengerti apa yang dimaksud dengan Sifat Kebuddhaan.*

Master akan menjelaskannya kepada kalian, sifat kebuddhaan adalah sifat dasar manusia, sifat dasar manusia adalah hati nurani.

Seseorang yang berhati nurani baik, maka sifat dasar dia adalah baik. Jika melihat orang lain terluka, lalu kamu tidak memiliki perasaan, jika kamu berani membunuh dan membakar, maka itu berarti kamu sudah tidak memiliki hati nurani lagi.

Tapi tidak berarti orang ini tidak memiliki sifat dasar, hanya saja sifat dasarnya dia sangat kotor, keduniawian telah menutup sifat dasarnya dia.

Sama seperti, sebuah mutiara yang tertutup oleh pasir, sangat susah bagi orang untuk melihat mutiara ini, yang terlihat dari tampak luar hanyalah pasirnya saja.

Oleh karena itu, kita harus bisa mencari sifat dasarnya, selain itu, tidak ada cara lain lagi untuk menambah manfaatnya. Jika sifat dasar seseorang tidak baik, tidak berhati nurani, maka semua perbuatan yang dia lakukan tidak mungkin ada pahalanya.

Misalnya, orang yang berhati nurani, maka segala perbuatan yang dia lakukan akan diterima hangat oleh orang lain, disukai, sedangkan perbuatan yang dilakukan oleh orang yang tidak baik, sangat susah untuk dipuji maupun diakui, bahkan banyak orang masih mengira dia ada maksud tertentu, ada tujuan yang terselubung.

Hanya dengan menggabungkan sifar dasar kita, hati semua makhluk hidup dan sifat kebuddhaan menjadi satu, maka tidak akan bisa timbul hati luar.

*Sebagai seorang praktisi Buddhis, sebelum mengerjakan sesuatu hal, terlebih dahulu gunakan hati nurani diri sendiri untuk bertanya, Apakah pantas melakukan hal ini? Bahkan boleh berpikir, Jika Guan Shi Yin Pu Sa melakukan hal ini, Apa yang akan beliau lakukan?* Dengan melakukan hal ini, akan menimbulkan hati Buddha dan hati nurani kamu.

Misalnya, ada sebuah masalah di dalam kantor, ingin melaporkan kepada atasan bahwa orang ini tidak bekerja dengan baik, jika saat ini, kamu memiliki hati welas asih, maka akan memaafkan rekan kerja, dan masalah akan selesai sampai disini.

*Sebenarnya, selalu ada orang yang bertanya kepada Master, jika orang itu berbuat salah, lalu saya tidak menjelaskannya kepada atasan, pimpinan akan berprasangka buruk kepada saya, apa yang harus saya lakukan di kemudian hari?*

*Harap diingat, ada dua hal. Orang itu melakukan kesalahan, dia telah menanam karma buruk. Dan ada satu hal lain lagi, dia sedang datang untuk menagih hutang, kamu berhutang kepada dia.*

*Coba kalian bayangkan, jika kamu tidak mengatakan kejelekan orang itu ke pimpinan, bisa jadi kamu tidak akan lagi mendapatkan kesusahan. Walaupun untuk sementara waktu pimpinan akan berpikir tidak baik kepada kamu, dalam jangka waktu yang lama, bisa jadi akan lupa, dan pada akhirnya pimpinan akan mengetahui kejadian yang sebenarnya. Sebenarnya ada banyak hal yang tak perlu dijelaskan.*

Ketika terjadi kesalahpahaman, jika tidak mengatakan keburukan orang lain, maka ikatan karma buruk diantara kalian berakhir, karena pihak lain tidak lagi mencari masalah.

Tapi jika kamu tidak bisa menahan diri, bahkan masih menyerangnya, maka pihak lain akan membalas dendam lebih besar lagi dan menyerang balik, serangan balik semacam itu akan memaksa Anda untuk jatuh ke dalam jurang yang lebih dalam lagi.

*Dalam melakukan setiap hal, jika tidak bisa belajar untuk bersabar, maka masalah yang datang akan semakin banyak.*

Contohnya, dalam menghadapi bencana kebakaran, jika tidak menggunakan alat khusus pemadam kebakaran untuk mematikan api, tapi malah menggunakan air dan menyiramnya, jika kebakaran ini disebabkan karena minyak, maka api malah akan semakin membesar.

Sebagai orang yang mempelajari Dharma juga menggunakan konsep yang sama seperti ini, harus memahami apa akarnya. Jika tidak menemukan penyebabnya, tidak memahami penyebab mengapa bisa terjadi kebakaran, tidak memahami tidak bisa menggunakan air untuk mematikan api, maka akan susah memadamkannya.

Hubungan sesama manusia, sesama teman, terkadang akan ada kesalahpahaman, perdebatan, kita tidak perlu harus mengetahui permasalahan sebenaenya.

Terkadang kita harus belajar untuk biam diam, disebut “Diam lebih baik daripada bersuara”.

Terkadang dengan tidak berbicara, orang-orang tidak akan menganggap kita bisu. Orang yang banyak berbicara, mereka pun juga tidak akan menganggap kamu orang yang bijaksana.

Tidak peduli apakah itu di pekerjaan atau rumah tangga, terkadang orang tidak mengindahkan orang yang berbicara terlalu banyak.

Semakin banyak berbicara, semakin terlihat bahwa dia tidak pengetahuan luas;
Orang yang berwawasan luas, tidak berbicara banyak.

*Coba kalian lihat orang yang berwawasan luas, biksu besar, sangat sedikit ucapan yang dia katakan, selalu orang-orang disekitarnya yang berbicara banyak dan mereka hanya berkata 4 kata: “A Mi Tuo Fo.”*

Mereka telah melihat dengan jelas keduniawian ini, mereka mengetahui bahwa dunia ini adalah palsu, apalagi yang bisa mereka katakan.

Setiap perbuatan dan pikiran yang kita lakukan semuanya mengikuti karma dan menerima penderitaan. Jika kita tidak bisa bersabar, sebenarnya kita sedang meneruskan akar permasalahan dari penderitaan ini, terus tersesat dan tak tercerahkan, dan selanjutnya masalah akan datang lagi.

Banyak orang yang tidak mengerti teori Dharma, ketika mendapatkan masalah, selalu berpikir bagaimana menyelesaikan masalah ini, *Tapi apakah pernah berpikir, apakah kebijaksanaan kita cukup untuk menyelesaikan masalah ini.*

Ada satu pepatah Tiongkok yaitu, “Semakin dijelaskan, masalah akan semakin rumit”.

Ketika sudah melakukan kesalahan, cara yang terbaik adalah bertobat, jangan sok pintar untuk menjelaskannya. Terlihat jelas bahwa sudah melakukan kesalahan, ini berarti kamu tidak memiliki kemampuan, tapi jika terus menerus menjelaskannya, hasil apa yang akan kamu dapatkan?

Manusia harus memiliki kebijaksanaan, kebijaksanaan selalu berada di dalam hati.

Orang yang suka berbicara sembarangan, adalah orang yang tidak bijaksana.

Selalu mengatakan keburukan orang, apakah ada kebijaksanaan? Seseorang yang sanggup menahan ucapannya, tidak mengatakan keburukan orang lain, baru bisa memiliki penampilan bijaksana, yaitu memiliki kebijaksanaan, maka penampilannya pun juga akan berubah.

Orang yang sering mengatakan keburukan orang lain, maka dia akan terjerat oleh masalah, sama seperti matahari yang tertutup oleh awan, tidak bisa melihat cahaya, tidak bisa melihat sinarnya.

 

6、学佛学法要从根源上学起

 

很多听众喜欢学佛、学法,实际上我们学佛、学法最主要的是要从根上学。什么是根呢?根就是人的本性。人的本性一定要善良,这个人学佛才学得好。如果一个人的本性很恶,是学不好佛、学不好法的。佛法的深度和广度,犹如大海一般,浩淼无际。佛法无边,唯佛与佛,方能测其源底。就是说只有当你学佛菩萨,才知道佛法的深广,当你不学佛法的时候,你就不懂得佛法的深广了。我们说,宇宙分为十法界,九在这些法界中,有很多是圣人,有些是凡人,有些事情需要我们很严格,有些事情要稀里糊涂的。我们在人间,有的人一辈子觉得自己很聪明,有的人一辈子很愚笨,有的人觉得自己很傻、白活了,有的人精明过头,有的人觉得自己像圣人一样,其实这都不过是摄取了佛法中的一部分能量而为之。

 

在学佛、学法的过程中,如果学不好,就会很愚昧;如果学得好,就会像圣人一样,很聪明,但还是会智慧不够。这是因为你只学到佛法的一小部分。要真正地学好佛法,一定要正入,就是要相信正确佛法,要全身心地投入其中,才能够学到更多更好的东西。犹如大象和蚊虫,一个大,一个小,大象可以在海边喝点水,蚊虫也可以,那么它们谁喝水更多呢?表面看他们都喝了水,表面其实它们所饮水量已经不相同了,然大海的水是取之不尽、用之不完的。我们学佛、学法,可以吸取知识性的、智慧性的东西,可是无边无际的佛法的能量我们能够吸取多少呢?除非我们本身已经聚足了大海的能量,我们才有可能去吸取无边的海水。否则,只能轻嚐其味,味一穷源彻底也。

 

当一个人不能够理解佛法的时候,只是说学佛很好,它可以帮助我们消灾解难。但是怎么解难、它的根源在哪里?我们要知道源头、最根本的毛病是哪里来的。就像中医讲的一样,治病光治表是没有用的,要寻根寻源。如果仅仅是头痛医头、脚痛医脚,而不知道头痛、脚痛的起因,就是去做脑电波、CT等,还是不能解决问题。所以,学佛、做人,在于是否学到根本的东西,犹如大象与大海一样,犹如蚊虫与水一样,它们各得饱腹而去,只不过是懂得一点罢了。很多人到东方台观音堂来磕头也是这样的,和台长预约见面后,说自己工作不好,让台长教教他怎样改变现状。台长教他念经,等工作找到后,又不念经了。大家想想看,这样三天打鱼、两天晒网,工作能好多久呀?人生无常,如果不懂得从根本上解决问题,如果不知道找不到工作的根本原因,如果不知道今生今世为什么吃苦,想想看,能够解决吃苦的毛病吗?能够解决没有工作的问题吗?能够解决父母和孩子感情的矛盾吗?学佛一定要钻进去,要花气力学,要明明白白了解佛法,而不是浅尝辄止。

 

台长给大家讲一个简单的道理。比如人家给我们端一盆菜来,很好吃,你知道人家是怎么烧这个菜的吗?放多少油、糖和水,是油炸还是勾芡,烧到什么火候,这是有一套程序的。如果仅仅只知道吃,就好比现在拿到了佛经,只知道念经,而不知道它的真实妙用、妙法,不懂得根基,不懂得学佛真正的原理和原因,这样能够彻底了解佛法、能够彻底解决问题吗?佛法乃一切众生的心本具之法,就是说,真正的佛法就是在每个人的心里,真正的佛法就是每个人的本性。如果一个人能够了解自己的本性,就是了解了佛法。孔子有一句话,“人之初,性本善。”人之初,并不是指我们人还是婴儿的时候,而是指我们的本性在无始劫之前,就是指人的最原始的本性是好的。就像释迦牟尼佛在菩提树下悟出的“众生皆具佛性”一样。

 

很多听众刚刚开始学佛,可能还不知道什么叫佛性。台长简单地告诉大家,佛性就是人的本性,本性就是人的良心。一个人良心好的话,本性就很善良。如果看见别人受伤了,你没有感觉,如果你敢杀人放火,那就是已经没有良心了。但并不代表这个人没本性,只不过是他的本性很肮脏,他的本性被世俗的东西蒙盖住了。犹如一粒珍珠,被尘沙覆盖,珍珠的本性很难被人看见,呈现在人们面前的只是尘沙而已。所以要众生心外,了无一法所增益。就是说我们的心要寻找它的本性,除此之外,没有任何方法可以增加心的益处。如果一个人本性不好、良心不好,所做出来的事情不可能有功德。比如说良心好的人,所做的事情总是受到别人的欢迎、喜爱,良心不好的人做出的事情很难得到别人的赞美和认可,很多时候还会被别人认为是有目的、有企图的。只有当我们把本性、众生之心和佛性融合在一起,才不会生到外心。

 

作为一个学佛的人,每做一件事情前,先用自己的良心问问是否可以做这件事,甚至可以想一想,如果观世音菩萨做这件事情,她会怎么做呢?这样的话,你的佛心、你的善良之心就会出来。比如说,在单位碰到了麻烦事,很想去领导那里说说某位同事的不好,如果这个时候,你有慈悲心,就会原谅那位同事,然而事情就此了结。事实上,总会有人问台长,如果是那个人有错,我不去领导那里解释一下,领导对我有误会,我以后的日子怎么过呢?请记住,这是两种所为。那个人做的事情,他自己造孽了。还有一种所为,他是来要债的,你欠他的债。大家想想看,如果你不到领导那里去还击的话,也许你不会再有灾难了。即便领导对你暂时有看法,时间一长,也会慢慢烟消云散,领导最终会看出事情的真相。其实很多事情是不需要解释的。碰到误会,如果不去讲人家的坏话,你们之间的怨结就会结束,因为对方不会再来惹事了。如果你不忍,去还击了,对方可能会给你造成更大的报复和打击,这样的反击会促使你跌入万丈深渊。

 

做人做事,如果不能够学会忍,烦恼会越来越多。举个例子,碰到火灾,如果不用专用灭火器灭火,而是用水去浇,碰到因为油污引起的火灾,火会越来越大。学佛做人也是这个道理,一定要懂得什么是根本。如果没有医治根本,不知道火灾的真实起因,不知道油不能够用水去灭,就很难把火灾扑灭。人和人之间、朋友和朋友之间,有时会有一些口舌、是非,我们不一定要去弄得水落石出。做人有时要学会沉默,叫“此时无声胜有声”。有时不讲话,人家并不会把我们当哑巴。话多的人,人家也不会把你当成智者。无论是在单位,还是在家里,话多的人常常被人家看不起。话越多,暴露的无知越多;真正的智者,话是很少的。大家看看那些大居士、大和尚,话都很少的,往往是别人说了半天,他们就说四个字:“阿弥陀佛。”他们对人间的一切已经看得很透了,他们知道这个世界是假的,还有什么话可说的。

 

我们所有的起心动念都是在随业受苦。如果我们不能够忍耐,其实我们就是在造就继续受苦的根源,仍然是迷而未悟,接下来烦恼又来了。很多人不懂佛法道理,当某件事情发生了,总在想办法把它解决掉,但是要想想自己是否有足够的智慧去解决这个问题。中国有句话,叫“越描越黑”。有些时候做错了事情,最好的办法就是忏悔,不要自作聪明地去解释。事情既然做错了,就说明你不怎么样,如果还在不停地解释,又能得到怎么样的结果呢?人要有智慧,智慧是常驻心中的。经常乱讲话的人,是没有智慧的。嘴巴整天说别人不好的人,会有智慧吗?一个人如果能够守住自己的嘴巴,不讲别人的不好,才会有智慧德相也就是智慧生出,相貌也会变。嘴巴经常讲别人不好的人,会被烦恼纠缠,就像乌云遮盖太阳一样,见不到光明、见不到光亮。