[Fahui] Seseorang yang setelah merasakan penderitaan, baru mengetahui bagaimana caranya terlepas dari penderitaan

*Ceramah Master Jun Hong Lu pada pertemuan umat seluruh dunia, Hong Kong, 21 Juni 2015*

Seseorang hidup di duniawi, jangan mengandalkan orang lain, tetapi andalkan diri sendiri.

Banyak orang yang memiliki sifat ketergantungan kepada orang lain, dan akhirnya membuat dia kehilangan banyak kesempatan.

Ada seorang pria yang kehilangan lengannya dalam kecelakaan mobil.

Dia ketakutan bertemu orang lain, bahkan dia lebih takut simpati orang lain membuat dirinya kehilangan harga diri.

Ada suatu kali, dia bertemu seorang teman di tengah jalan, dia ketakutan dan masuk ke sebuah gang kecil. Dalam ketakutan, dia menabrak seorang perempuan dan bahkan menginjak kakinya dengan keras hingga sepatunya rusak.

Dia berkata: “Maaf, adik kecil, Apakah kakimu terluka?”

Anak perempuan itu menggelengkan kepala: “Tidak apa-apa, saya tidak merasakan sakit.”

Pria ini pun penasaran dan berkata: “Saya menginjak kakimu dengan keras, Mengapa kamu tidak merasakan sakit?”

Dengan pandangan mata sang pria yang terkejut, anak perempuan itu dengan tenang menarik celana, menunjuk ke kakinya dan berkata: “Kaki saya ini palsu, jadi tidak merasakan sakit.”

Anak perempuan ini lanjut mengatakan: “Walaupun kaki saya kurang satu, tetapi setidaknya saya masih hidup, ini adalah suatu keberuntungan dalam ketidakberuntungan yang saya alami. Kita harus selalu tersenyum kepada setiap orang, setiap hari menghargai kehidupan kita.

Saya ingin mempertunjukkan “Kaki” saya ini kepada seluruh orang. Bukan karena ingin mereka memandang saya dengan perasaan kasihan, tetapi agar mereka mengetahui seberapa beruntungnya mereka.”

Ucapan anak perempuan ini sangat masuk diakal yang membuat pria ini pun terkejut.

Dia berpikir sejenak dalam perasaan malu, tiba-tiba dia merasakan kehilangan lengan bukan berarti lebih kecil daripada orang lain, harus membangkitkan semangat, sinar matahari menyinari tubuhnya, dan dia akan terus berjalan maju.

Walaupun tubuh seseorang terluka, tetapi jiwanya tidak boleh terluka.

Seorang Praktisi Buddhis harus bisa tegar dalam menghadapi setiap kesulitan, hidup ini tidak kekal, permasalahan duniawi tidak kekal, tidak kekal berarti adalah sebuah harapan.

Setelah kamu kenyang menghadapi setiap kesulitan yang tidak kekal ini, maka kamu baru bisa menghargai kehidupan duniawi, bahkan memahami untuk meningkatkan tingkat kesadaran.

Singkatnya, seseorang yang setelah merasakan penderitaan, baru mengetahui bagaimana caranya terlepas dari penderitaan.

(Tepuk Tangan)

超越人间凡尘 启发根本智慧(下)——2015年6月21日卢军宏台长香港世界佛友见面会开示摘要
2016-06-16
一个人活在世界上,要靠的不是别人,要靠的是自己,很多人就是有依赖性去靠别人,最后连自己也失去了机会。有个男人,因为一次意外车祸失去了一个手臂,他很怕见人,他更怕别人的同情让他的自尊心无法承受。有一次,他在街上碰到一位朋友,他慌忙躲进一个小胡同,慌张中撞到了一个小女孩身上,并踩到了小女孩的脚,踩得很重,以至于这个女孩的鞋子都陷进去一块。他连忙说:“对不起,小妹妹,你脚受伤了吗?”女孩摇摇头:“没关系,我没感觉到痛。”男人很奇怪地说:“我踩得这么重,你为什么不痛呢?”女孩在他惊讶的目光中,非常沉稳地拉起裤管,指着腿说:“我这是一条假腿,怎么会痛呢?”女孩继续说:“我虽然少了一条腿,但我还活着,这就是我不幸中的万幸。我们要笑着面对每一个人,珍惜每一天。我要把我的腿给每一个人看,不是让他们觉得我不行,而是让他们知道他们多幸运。”女孩的话非常有哲理,让这个男士非常吃惊。他羞愧地想了一下,突然觉得失去手臂没有比别人矮小,鼓起勇气,阳光照在他的身上,他一直在往前走。一个人虽然可以肉体受伤,但精神不能受伤。一个学佛人可以在困难中学会坚强,人生无常,世事无常,无常就是希望。当你饱受了无常的痛苦之后,你才会更珍惜人生,更懂得境界的提升。简单的讲,一个人只有吃苦了,才会知道怎样去摆脱痛苦。(掌声)