BHFF Episode 7

*Kebaikan dan Keburukan semuanya adalah sebab akibat*

Pertama-tama, manusia harus bisa “membersihkan” 3 racun yang berada di dalam hati, yaitu keserakahan, amarah dan kebencian.

Kata “Membersihkan” disini berarti, hal yang pernah kita serakahi, amarah yang pernah timbul dan perbuatan bodoh yang pernah kita lakukan, harus bisa memurnikan kembali semua yang sudah tercemari.

Dengan kata lain, memurnikan kembali semua kekotoran batin ini, baru tubuh kita bisa murni dan bersinar kembali.

Mengapa tubuh seseorang bisa tidak bersinar dan murni?

Karena sepanjang hari mereka melewati hidupnya dengan ketidakbahagiaan dan penderitaan, membuat hati perlahan-lahan tercermari, dan tak lagi murni.

Ketika hati tak lagi bersih, maka kamu akan tercermari oleh tiga racun batin ini dan menutupi sifat Kebuddhaan-mu.

Sifat keBuddhaan adalah berwelas asih kepada orang lain, memperlakukan orang lain dengan baik dan tidak serakah.

*Bagaimana membersihkan tiga racun ini?*

Cara yang terbaik adalah membaca paritta Li Fo Da Chan Hui Wen. Harus membaca paritta ini, karena jika seseorang tidak senang melakukan pertobatan, tidak senang mengakui kekurangannya, maka akan dengan sangat mudah kamu terperangkap dalam kesulitan.

Dan jika itu terjadi, kamu tak lagi bisa menyelaraskan pikiran, perbuatan dan ucapan yang baik

Seseorang yang tidak mengakui kekurangannya, maka dia akan sering tidak bahagia, berpikiran tidak jernih dan sering menderita.

Bagaimana menyelaraskan antara tubuh, mulut dan pikiran? Menjernihkan pikiran, mengeluarkan ucapan dan pikiran seperti seorang Buddha?

Yaitu dengan memiliki dasar Kebudhaan yang murni. Seperti yang tertulis di buku kitab suci Buddha, “Pikiran tidak berubah walaupun lingkungan berubah”. Ini adalah tingkat kesadaran ke 9, disebut “A Mo Luo Shi”, ini adalah sifat dasar hati nurani kamu.

Tidak peduli apapun yang terjadi, pikiran tidak akan berubah, karena kamu mengetahui Para Buddha Bodhisattva selalu berada di dalam hati, yang membuat kamu tidak akan berpikiran buruk, dan 6 alam samsara pun akan menjauh dari kamu.

Mengapa banyak orang yang terus bereinkarnasi di dalam 6 alam samsara?

Alasannya adalah, karena disaat mereka menderita dan berpikiran tidak jernih, itu berarti mereka sedang berada di dalam perputaran reinkarnasi itu.

Bukankah salah satu alam di 6 alam samsara ada Alam Langit? Jadi, ketika kamu bahagia, faktor lingkungan berubah, itulah saat dimana kamu berada di Alam langit.

Karena sedikitnya waktu kebahagiaan ini, orang yang berada di “Alam Manusia” berarti akan mulai menderita lagi,

Orang yang berada di “Alam Setan” akan mulai curiga lagi,

Oranh yang berada di “Alam Binatang” akan mulai menyakiti orang lain dan melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk diri sendiri. Kemudian melakukan perbuatan setan, tidak pernah pikir panjang dan hanya menyakiti orang lain, tidak tahu untuk membantu orang lain, maka kamu sedang berada di dalam 6 alam samsara.

Seseorang yang pikirannya terus berada di dalam 6 alam samsara, dia akan terus mengeluh dan mengeluh, memiliki sifat keserakahan yang tinggi, ini adalah sedang berada di duniawi.

Permasalahannya adalah karena dia masih belum mengikis karma buruk dari kehidupan lampaunya, dan lagi-lagi melakukan perbuatan buruk di kehidupan sekarang, Bagaimana kamu bisa tekun, giat dan kerja keras?

Ada beberapa orang yang membaca paritta Li Fo Da Chan Hui Wen dan terbayangkan akan perbuatan yang pernah dia lakukan sebelumnya.

Sebenarnya, cara yang benar setelah membaca paritta Li Fo Da Chan Hui Wen, seharusnya kamu bisa keluar dari penderitaan, tetapi masih banyak orang yang begitu membaca paritta Li Fo Da Chan Hui Wen, berkata “Ai Ya, Saya pernah melakukan itu….” , ini disebut dengan _Shi Qian_.

Kamu harus bisa mengidentifikasikan ini dengan teori, seperti “Hari ini saya membaca paritta Li Fo Da Chan Hui Wen, begitu banyak Bodhisattva, Guan Shi Yin Pu Sa, Sang Buddha…. Semua Bodhisattva dan para Budda sedang memperhatikan kita untuk merubah diri sendiri, Hari ini saya bertobat untuk masalah ini, Semoga Bodhisattva bisa membantu saya mengikis karma ini.”

Dan setelah membacanya, hati kamu akan merasa bahagia di dalam Dharma, dan membaca paritta Li Fo Da Chan Hui Wen tidak bertujuan untuk mengenang kejadian yang sudah lewat.

*Bagaimana agar seseorang keluar dari penderitaan dan berhenti melakukan perbuatan dosa?* Jawabannya adalah dengan mengeluarkan tekad hati yang besar.

Contohnya, ketika bencana datang, ketekadan hati besar kamu bisa mengikis banyak karma rintangan.

Tidak peduli menghadapi masalah apapun, membaca paritta Li Fo Da Chan Hui Wen adalah cara yang tercepat unthk mengikis karma buruk.

Memperbanyak membaca paritta Li Fo Da Chan Hui Wen, bisa menjaga keselamatan dan kedamaian, tidak banyak orang yang mengetahui hal ini.

Apa yang dimaksud menjaga keselamatan dan kedamaian di duniawi? Sekarang adalah Jaman Akhir Dharma, seseorang yang sering mengakui kesalahannya, kekurangannya, dan sering mengucapkan kata “Maaf, saya tidak bisa melakukan hal ini dengan baik, Maaf yah”, perkataan ini adalah ibarat “Li Fo Da Chan Hui Wen” di duniawi.

Seseorang harus bersikap sesuai dengan aturan yang berlaku, banyak orang mengatakan “Apakah kamu bersikap sesuai aturan?”

Dengan seringnya kamu mengucapkan kata “Maaf”, bukankah ini memberikan kamu rasa aman, dan membuat orang lain susah untuk mengerjai kamu? Mengikis karma buruk.

Seseorang yang memahami untuk selalu berbuat baik, menaati sila, norma dan peraturan yang ada.

Harus bisa mencapai tingkat memahami akan semua kebenaran duniawi dan menemukan kembali sifat dasar.

Banyak orang yang merasa dirinya telah mengetahui segala teori, tapi tidak mengetahui akan kebenaran duniawi ini, maka ini bukanlah sebuah teori, itu hanyalah sebuah jodoh.

Mana ada teori yang bisa membahas duniawi? Semua ini karena jodoh.

Banyak orang yang mengatakan, “Aiya, Saya telah berlindung kepada Buddha, Dharma dan Sangha”, kamu tidak boleh menganggap hal ini seperti sebuah janji, sumpah, memberikan kesan bahwa kamu akan melakukan hal ini untuk Bodhisattva, bukan seperti itu, melainkan mengeluarkan hati nurani dan welas asih dari lubuk hati yang terdalam.

Kamu melihat saya terus menerus bersembah sujud, Tapi, Apakah kamu setulus hati melakukannya? Apakah hati kamu sudah berlindung kepada Buddha Dharma Sangha?

Setiap hari kamu menyebarkan dharma, menolong orang atau menjadi seorang misionaris Dharma, bukankah ini berarti kamu sedang berlindung kepada Dharma?

Membantu orang lain, menjalankan Dharma, melakukan perbuatan sesuai ajaran Dharma. Membuat orang lain melihat bahwa kamu seperti seorang Buddha, bukankah itu berarti kamu sedang menjalankan Dharma?

Sangha, ketika melihat seorang biksu, kita bisa menjadikannya sebagai seorang tauladan, dan

Ketika tidak melihat biksu, kita bisa melihat dalam diri kita sebagai seorang tauladan.

Kita harus sering berpikir bahwa kita adalah seorang “biksu” yang belum melakukan upacara penasbihan.

Hal pertama yang harus dikuasai oleh seorang Praktisi Buddhis adalah belajar untuk kosong, mengosongkan diri.

Apa makna “kosong” ini? Seseorang yang memiliki terlalu banyak pikiran, dia tidak bisa dengan baik mempelajari Dharma.

Sifat kosong adalah mencari sifat dasar diri sendiri. Ibarat seperti sebuah ruangan yang kosong dan bisa dimasuki oleh orang lain dan duduk disana;

Jika ruangan ini penuh, tidak akan ada orang yang bisa masuk.

Jadi, Apa makna dari kosong? Yaitu, kita harus menemukan sifat dasar dalam diri kita, harus memiliki sifat kekosongan ini.

Karena begitu pikiran kita memiliki “Ada”, — maka semua keserakahan, amarah, kebodohan kesombongan dan kecurigaan berada di dalam pikiran, karena memang sudah ada di dalam.

Oleh karena itu, harus menggali semua ini hingga kosong, dengan kata lain, melatih diri hingga kosong.

Sama seperti seseorang yang penuh dengan banyak permasalahan, dan melatih dirinya hingga semua permasalahannya hilang, ini berarti kosong;

Yang awalnya, orang ini akan berdebat begitu berbeda pendapat dengan orang lain, tetapi setelah memahaminya, dia akan menjadi kosong.

Dulu, kita tidak mengenal Ajaran Dharma, dan hari ini kita bisa menerapkan Ajaran Dharma dalam kehidupan sehari-hari dan memahami makna Dharma yang terkandung.

Sekarang, kita sudah berbeda dengan orang biasa, tidak lagi memikirkan perbuatan baik dan buruk, dengan kata lain, tidak memikirkan terlalu banyak mengenai perbuatan baik, tetapi melakukan hal sesuai peraturan dan norma yang berlaku, secara alami melakukan kebaikan.

Disaat sifat dasar kamu telah kosong dan melakukan perbuatan kebaikan, maka ini disebut dengan istilah _Shan Xing_;

Tapi jika hari ini kamu berpikir “Saya ingin melakukan perbuatan baik”, ini berarti sudah tak lagi sebuah kebaikan yang murni.

Makna sebenarnya dari melakukan perbuatan baik dan melekat adalah berbeda.

Misalnya, Hari ini kamu memaksakan diri untuk berpikir kebaikan dan tidak berpikir buruk, ini berarti, Kamu mungkin masih melekat;

Tapi jika kamu tak lagi berpikir tentang kebaikan dan keburukan, karena kamu memang adalah seseorang yang baik, maka segala perbuatan yang kamu lakukan pasti adalah baik, tak perlu lagi berpikir “Hari ini saya tidak mau melakukan perbuatan jahat”, karena kamu memang adalah orang baik.

Kebaikan dan keburukan saling bertolak belakang.

Ada beberapa hal yang kamu lihat adalah sebuah hal yang baik, tetapi pada akhirnya, itu adalah hal buruk;

Dan ada beberapa hal yang kamu anggap ini adalah sebuah hal buruk, tetapi kamu malah membantu orang lain.

Benar tidak?

Contohnya, *Ketika seseorang sedang melakukan hal jahat, kamu akan berpikir “Saya tidak akan menceritakan hal ini kepada orang lain”, Bukankah kamu sedang mencelakainya?*

Ada beberapa hal yang seharusnya kamu ceritakan kepada Shifu, agar Shifu bisa membimbingnya, mengajarkannya, menariknya kembali ke jalan benar.

Tapi jika kamu tidak menceritakan perbuatan jahatnya, dan malah berakhir dengan memutuskan nyawa kebijaksanannya.

*Awalnya kamu berpikir “Memang saya merasa hal yang dia lakukan adalah jahat, tapi saya harus menjaga rahasia ini (Perbuatan jahatnya), Sebenarnya kamu sedang mencelakai dia.*

Sangat penting untuk bisa mematahkan “Kosong” dan “Ada” duniawi.

Sebenarnya apa yang ada di dalam benak kamu? Keserakahan, Amarah, Kebencian, Kesombongan dan kecurigaan.

Bukankah lebih baik mengosongkan itu semua?

Jika di hari ini, kamu memiliki Sifat KeBuddhaan, (Hal yang baik), sudah pasti “Ada” lebih bagus.

Permasalahannya adalah di dalam pikiran orang-orang memiliki Keserakahan, Amarah, Kebencian, Kesombongan dan kecurigaan, dan tak butuh waktu lama untuk Sifat KeBuddhaan hilang dari dalam diri kita.

Tidak mudah untuk membersihkan hal yang kotor seperti keserakahan hati.

Saya berikan contoh: Hari ini ada noda hitam di kemeja putih kamu, awalnya ini adalah kemeja putih, dan tak butuh waktu lama untuk membersihkannya, karena benda yang baik masih akan tersimpan.

Tapi, Asalkan ada benda buruk yang menodai pakaian (Hati) kamu, tidak mudah untuk mencucinya, inilah alasan mengapa kamu menderita.

Jadi “Kosong” dan “Ada”: Ada, setelah kamu membersihkannya, itu akan kembali menjadi kosong.

Setiap orang memiliki derajat yang setara, jangan lah kamu berpikir dia orang baik, dia tidak baik, sebenarnya manusia setara.

Kita semua memiliki dua mata, tapi apakah bentuk matanya baik atau buruk, apakah matanya minus atau plus, ini adalah konsep yang berbeda, tetapi intinya adalah semua orang itu sederajat, harus mengandalkan kerja keras untuk bisa mencapai kesuksesan.

Sebenarnya kebaikan dan keburukan adalah salah satu dari sebab akibat.

Disaat kamu benar-benar memahami makna dari kebaikan dan keburukan, dari segi sebab dan akibat, *Walaupun kamu telah melakukan sebuah perbuatan kebaikan, tapi akhirnya adalah buruk, ini pertanda bahwa tidak selamanya hati kebaikan kamu bisa menghasilkan kebaikan.*

Sama seperti seorang Dokter yang hanya mementingkan untuk membuka resep obat tapi tidak mempedulikan Apakah pasiennya hidup atau mati, Apakah dia seorang dokter yang baik?

Lalu Sang dokter menjawab “Saya lakukan semua ini demi kebaikan dia”, Tapi apa hasil akhirnya?

*Harus bisa mengenal diri sendiri.*

Banyak orang yang sering mengatakan “Saya memahami dia dan dia”, sebenarnya bahkan dia sendiripun tak memahami dirinya sendiri, Bagaimana kamu memahami orang lain?

Disaat kamu sedang ingin mengeluarkan amarah, terlebih dahulu harus memahami sifst diri sendiri: “Ketika saya emosi, perbuatan apa yang akan saya lakukan?”. Kamu harus memahami hal ini.

Jika hari ini istri kamu jatuh sakit, dan apakah kamu mengetahui apa yang akan dia lakukan selanjutnya? kamu harus mengerti.

Ketika kamu mengetahui apa akibat jika dia mulai emosi, maka kamu tidak akan melakukan penyebab yang akan membuat dia marah.

Disaat kamu mengetahui bahwa kamu akan marah, yang harus kamu lakukan adalah Menenangkan diri, dan bukan dengan perkataan untuk menahan diri.

Coba kamu lihat “Tenang, Tenang, Tenang”, dan dia sudah tenang;

Tapi jika kamu ingin menggunakan perkataan untuk menahan diri, Disaat emosi kamu naik, kamu akan berkata “Saya tidak akan mau berurusan dengan orang yang perhitungan, saya akan menahan diri saya dan tidak akan mempedulikan kamu, derajat kamu begitu rendah, buat apa saya ribut dengan kamu! Huh! Saya tidak akan mempedulikan kamu!”

Bukankah kamu sedang menggunakan perkataan untuk menahan diri? Apakah bisa menahan diri seperti itu? Selanjutnya malah hanya akan membuat kamu semakin marah.

Disaat seseorang tidak bisa menemukan jalan keluar, kemanapun arah jalan yang kamu pilih pasti akan salah, kamu harus memahami hal ini.

Karena disaat tidak tahu mana yang benar, maka kamu pasti akan salah, kemudian Shifu menarik dan membimbing kamu lagi.

Disaat kamu meluapkan amarah kamu, maka kamu sudah salah, apapun alasan yang kamu jelaskan, semua itu salah.

Meluapkan amarah bisa diibaratkan seperti mengendarai mobil di jalan yang salah, jangan lah kamu marah-marah lagi, karena kamu sudah salah, apapun perkataan yang kamu keluarkan adalah salah.

*Hal yang harus dilakukan adalah, Terlebih dahulu menenangkan diri, berpikir dengan baik, perkataan apa yang akan kamu ucapkan, apakah pantas melakukan hal ini, mungkin dalam sekejap amarah ini akan hilang.*

*Disaat kebijaksanaan kamu tidak ada, jangan mengucapkan satu patah kata apapun;*

*Disaat kamu tidak bisa menemukan arah jalan yang benar, Tenangkan diri kamu, jangan sembrono, cobalah untuk menelepon dan bertanya kepada orang lain, ambillah peta, berpikir jalan yang sudah dilalui, mungkin tak butuh waktu lama untuk kamu menemukan arah jalan yang benar.*

善恶都是因果

人首先要洗涤过去的贪瞋痴三毒。洗涤就是要把过去曾经贪过的、恨过的,还有做过的愚痴的事情,全部转污为净,就是把过去的那些污染的东西转为干净,身心就会得到干净和光明。任何人,为什么身心不光明、不干净呢?就是因为整天不开心、难受,内心就慢慢开始污染了,就不干净了。心里不干净的话,你慢慢地就被贪瞋痴所染,你的自身佛性就不能显现。自身佛性就是要慈悲别人,要对别人好,不要去贪。一个人怎么样能够洗涤自己的贪瞋痴?最好的方法就是念礼佛大忏悔文。一定要多念,因为一个人如果不喜欢忏悔,不喜欢承认自己的缺点,你就很容易陷入困境。陷入困境的话,你就无法相应身口意。一个人不喜欢承认自己的缺点,你就经常不开心、经常想不通、经常难受。

怎么样跟自己的身体和嘴巴还有意念合在一起,让自己的心想得通,话说出来像佛,意念想出来像菩萨?一个人要有根本的清净佛性,就是佛经常讲的“境转而心不转”——环境不管发生什么,你的心不要转。根本清净的佛性,就是九识田中的阿摩罗识,这个就是你的良心本性。不管发生了什么,你心中如如不动,你知道菩萨、佛都在你心中,你不会转变这种不好的念头,六道轮回就不在你身边。很多人为什么经常六道轮回?实际上一个人很痛苦的时候、想不开的时候,他就在轮回当中了。你说六道里有天道吗?开心了,环境一变,你在天上的时间,开心的时间少了,人道开始吃苦了,鬼道开始怀疑了,畜生道就开始做那种伤害别人、对自己也不利的事情了。然后做魔,没有先人后己,只有伤害别人,不能够知道帮助别人,你就在六道轮回里。

经常脑子在六道轮回当中的人,他的怨气会很重,他的贪念会太深,这是在人间的。问题是他的宿业未消,宿业就是你前世的业障还没消,今世又在做坏事了,你怎么样能够精进、怎么样能够努力呢?有些人一念礼佛大忏悔文,就想起了很多过去的事情。实际上,礼佛大忏悔文真正念完之后,人应该可以使自己跳出痛苦的,但是很多人一念礼佛大忏悔文,“哎呀,我对这件事情啊……”这叫“事忏”。你要从理论上去鉴别它,“我今天念了礼佛大忏悔文,这么多的菩萨,观世音菩萨、我们伟大的佛陀……所有的菩萨、佛都在看着我们在改变自己,我今天忏悔了,这个事情,希望菩萨能够帮我消除”。那么这个时候,你心里就法喜充满,而不是念礼佛大忏悔文让你去回忆过去的。

一个人怎么样跳出痛苦,并阻止自己的罪孽?就是要发大愿心。比方说有一个灾难来了,一个天灾来了,大愿心可以消掉你很多的业障。不管碰到什么事情,念礼佛大忏悔文,罪孽消除得最快。礼佛大忏悔文要多念,保平安的,很多人都不知道这一点。在人间做人也是的,保平安是什么?现在末法时期,保平安就是经常承认自己的错误、缺点,碰到事情说“对不起,我没做好,对不起”,这就是人间的“礼佛大忏悔文”。

人要讲理,人家说“你讲不讲道理啊?”这个“理”和那个“礼”差不多的,你经常跟人家说“对不起”,你是不是保平安了,人家不搞你了?罪孽消除。一个人要懂得善守戒律,戒律要善守。善守是什么意思?好好地守住戒律。要达到明心见性,很多人在人间总是觉得自己很有道理,不知道这个世界上真正的理,那不是理,那是一种缘分。哪来的理可以讲啊?缘分啊。

很多人也经常说“哎呀,我皈依了”,你不能把皈依作为一种答应、承诺,好像皈依就是以后要给菩萨做事情一样,不是这样,那是启发你内心的一种本性的善良和慈悲。你看我们天天磕头,磕头的时候思想是不是集中?心皈依了吧?你天天在度人、救人,或者弘法,这是不是皈依法?帮助别人,你就在行法,行这个佛法。你让别人看到你像佛一样,那么你是不是在进行当中?僧呢,实际上看见法师,以法师为榜样;没有法师,以自己的内心佛为榜样。我们经常要想,我们就是一位没有出家的法师。

学佛的第一件事情就要学会空,要空。你们知道什么叫空吗?脑子里杂念太多,学不好佛的。空性就是找到你的本性。空性就像这间房间一样,空了,别人才能坐进来;如果这间房间坐得满满的,其他人就进不来了。所以空是什么?我们学佛,要找到内心的本性,我们必须要空性。因为我们心中已经“有”了——什么都藏在自己的心中,贪瞋痴慢疑全部都在自己的心中,已经有了,要把这些贪瞋痴慢疑全部挖空,要修到空。就像一个人很烦恼,修到最后不烦恼,就是空了;本来跟别人闹意见,想通了——空了。我们从过去不认识佛法,到今天能够运用佛法,要了解佛法的意义。我们现在已经跟普通人不一样了,我们现在不思善、不思恶,就是做善事都不要去想得太多,如理如法地做,就是一种自然的行善。在你本性当中空的,你去行善,你这个人就叫善行;你今天去想“我要行善”,这个就不是净善。

所以真正地行善和执著是不一样的。如果你今天逼着自己去思善,不思恶,那么你可能是执著;如果你今天善恶都不去思,因为你是一个好人,你做出来一定是好事,你不会去想“我今天是不是做坏人的事情了”,因为你是一个好人。

善恶是相对的。有的事情表面上看起来,你认为是一件善事,但是到了最后,它是一件恶事;有的时候,你认为这是一件不好的事情,但是你恰恰帮了别人。对不对?举个简单例子,人家在做坏事,你认为“我不应该去告诉别人”,你就害了他。有的事情,你要告诉师父,师父教育他、帮助他,把他拉回来。你不说,他做坏事了,最后断了他的慧命。这就是你们很多人认为“我不说是对的,我帮他保密”,实际上你是害了他。

打破人间的“空”和“有”很重要。你们到底心中有什么?有贪瞋痴慢疑,你还不如没有,还不如空的;你们如果今天心中有的都是佛性,好的东西,那当然“有”好了。问题是一般的人心中都是贪瞋痴慢疑,佛性的东西很快就会过去,但是那些贪心、肮脏的东西不容易洗去。我举个简单例子,你的白衬衫上今天沾染了墨汁,你要洗掉,本来就是白的,一洗就干净了,善的东西,它还保留着;恶的东西只要在你的衬衫上,在你心中,它不容易洗去,所以你才会痛苦。所以“空”和“有”:有,你把它洗掉了就是空的。本来人的心就是平等的,每个人都是平等的,你们不要以为这个人好,这个人不好,实际上人跟人都是平等的。你有两只眼睛,他也有两只眼睛,长得好看、难看,眼睛近视眼、远视眼,这个是另外的概念,但是总体来讲人是平等的,靠努力都能成功的。

善恶本来就是因果的一种。当你了解了善和恶,如果在因果上讲起来,你做了一件善事,到了最后的果不好,实际上并不是说你发心好就能做好事。一个医生只管开药方,不管病人吃得死活,这也是一个好医生吗?你说“我是为他好,最后怎么这样?”

自己要了解自己。很多人整天说“我了解他,我了解她”,实际上你连自己都不了解,你怎么会了解别人呢?当自己快要生气的时候,你首先要了解自己的性格:我生气了,我会做出什么举动。你要懂啊,今天太太生病了,你知道她接下来会干吗,你都要了解的。她要发脾气了,你知道最后的结果会怎么样,你知道了这个果,这个因就不会乱来了。所以当自己知道快要生气的时候,首先要用静,不要用话来克制自己。你看看,“静静静”,他静下来了;如果你想用话来克制自己,刚刚要发脾气了,你说“我不要跟你这种人斤斤计较,我会克制的,我不会理你的,你档次这么低,我跟你吵什么啊!哼,我才不理你呢!”是不是用话在克制啊?你说克制得了吗?接下来就火气更大。

所以,当一个人找不到路的时候,你往哪里开都是错,这个道理要懂。因为你不知道哪里是对的,你一开就错,那么师父把你们拉回来,教导你们。当你发脾气的时候,你只要一发,你就错了,你怎么讲话都是错了。所以发脾气就像开车开错路一样,你不要再去发脾气,因为你就是错了,一讲话就错。首先要让自己冷静下来,把要说的话仔细想一想,有没有必要,可能就会过去了。当自己智慧不够的时候,先不要讲话;当自己找不到路的时候先静下来,不要乱开,打个电话问问别人,拿本地图看一看,想一想刚刚走过的路,可能你就很快找到正确的道路了。