BHFF Episode 8

Baik, Para umat sedharma sekalian, hari ini akan meneruskan Bai Hua Fo Fa. Semoga kita semua bisa menambah kebijaksanaan, memiliki tingkat pencerahan yang lebih baik untuk melepaskan diri dari permasalahan kesehatan jiwa.

Kala itu, di Jetavanavihāra, kota Shravasti, Sang Buddha sedang membabarkan Dharma kepada para biksu, segala sesuatu di dunia ini tidaklah kekal. Segala sesuatu yang tidak kekal dan abadi akan membuat orang menderita.

Coba kalian pikirkan ini baik-baik, bukankah seperti ini?

Misalnya, kita sangat menyukai benda ini, tetapi tidak bisa bertahan lama, bukankah sangat menderita ketika harus meninggalkannya?

Seperti sebuah pakaian yang indah dan hanya dipakai untuk beberapa kali saja, tetapi karena bentuk tubuh kamu berubah menjadi gemuk atau kurus, akhirnya tak bisa mengenakan pakaian ini lagi, akhirnya kamu hanya bisa membuang atau memberikannya kepada orang lain, dan kamu akan menderita akan hal ini.

Ini adalah ketidakkekalan, dunia ini tidaklah kekal.

Sang Buddha memberitahukan kepada kita, ketidakkekalan adalah sesuatu hal yang menakutkan.

Asalkan kamu memiliki perasaan menyukai, mencintai, ingin memiliki, dan tak rela kehilangan akan suatu benda atau hal, dan disaat ketidakkekalan dan penderitaaan itu tiba, kamu akan merasakan lebih menderita.

Inilah alasan mengapa Sang Buddha menjelaskan kepada para biksu, dan berkata: “Sebenarnya, ketidakkekalan ini bukanlah ‘Saya’ yang Asli.”

Mengapa Sang Buddha mengatakan hal ini?

Sang Buddha berkata: “Ketidakkekalan ini tidaklah abadi, bukanlah sebuah perasaan yang sebenarnya. Ketidakkekalan ini tidak seharusnya berhenti di dalam penderitaan ‘Saya’.”

Karena penderitaan ini “Sayalah yang merasakannya”, adalah “Keakuan”, adalah “Saya”.

Sang Buddha ingin memberitahukan kepada kita bahwa: Sang Buddha merasa segala sesuatu benda yang ada di dunia ini, tidak peduli benda apapun itu, semua itu bukanlah milik kamu, dan seharusnya kamu tidak perlu melekat akan hal ini.

Semua benda ini bukanlah milik kamu, tidak seharusnya kamu berpikir “Ini adalah milik saya”, jika begitu, kamu akan berada di dalam penderitaan, inilah alasan untuk meninggalkan penderitaan ini.

Misalnya, kita memiliki sebuah benda yang sama. Lalu kamu membeli rumah ini dengan menyicil, dan merasa memiliki hak akan rumah ini, kemudian dengan perasaan bahagia kamu membersihkan rumah ini dan mengatakan “Ini rumah saya”, Benar tidak?

Tetapi disaat kamu tidak mampu membayar cicilan dan bank menyita rumah, bukankah kamu menderita?

Jika sejak awal kamu berpikir, memang rumah ini bukanlah milik saya, bukankah tidak akan ada penderitaan? Karena rumah ini tidaklah kekal, bukan miliki kamu.

Jika bisa berpikiran seperti ini, menggunakan cara pandang seperti ini, inilah yang disebut dengan Berkeyakinan Benar, Energi Positif, dan manusia tidak akan menderita dalam ketidakkekalan ini.

Sang Buddha selalu mengatakan agar kita memiliki kebijaksanaan.

Semua benda yang kita miliki adalah sebuah perasaan yang tidak terlihat,

“Saya sangat senang dengan ini”
“Saya sangat menyayangi Mama saya, mencintai teman dan teman sekolah saya”, bahkan “Saya sangat senang memakan sayuran ini”, semua ini tidaklah kekal.

Bodhisattva berpikir, semua ini hanyalah sebuah perasaan kita saja. Contohnya, hari ini kamu merasa ini sangat bagus, “Ai ya, saya sangat bahagia, benda ini milik saya”, padahal tak lama kemudian, benda ini sudah bukan milik kamu lagi.

*Ini semua hanyalah sebuah perasaan.*

Saya berikan sebuah contoh.
Ketika para umat kita merasa kelelahan dan haus, lalu membeli segelas teh susu yang dingin dan diletakkan disana.

“Apakah ini teh susu kamu?”

“Iya ini saya punya, baru saja saya membelinya.”

Apakah selamanya itu milik kamu? Benar. Tapi benda itu tidaklah kekal.

Karena ketika kamu berjalan menjauh lalu ada orang datang, mengambil dan meminumnya hingga habis, dan melihat kamu berjalan mendekat, dia berkata, “Maaf, ini milik kamu kah? Sudah saya minum habis.”

Teh susu ini tidaklah kekal, kamu akan merasa sedih, tidak bahagia, kemudian berpikir moralitas orang ini bla bla bla….

Apa yang kamu rasakan? Itu hanyalah sebuah perasaan, dan Sang Buddha menjelaskan kepada kita bahwa, Penderitaan pun hanyalah sebuah perasaan.

Ketika kamu merasakan menderita, maka kamu menderita.

Jika kejadian meminum teh susu ini disikapi dengan cara yang berbeda, misalnya:

Rekan kerja meminum habis teh susu kamu, lalu kamu berpikir “Sangat bagus, saya telah melakukan perbuatan pahala, tidak masalah minuman ini dihabiskan olehnya. Mungkin dia sangat haus, nanti saya akan beli yang baru, bukankah selesai?”

Tidak ada perasaan menderita kan?

Contoh cara lain untuk menyikapi hal ini, “Ai yah, kita semua adalah praktisi Buddhis, baguslah dia menghabiskan minuman itu. Pahala yang dia lakukan sangat besar, dia baru selesai dengan kesibukannya.”

Jika bisa memiliki pikiran seperti ini, bukankah tidak ada lagi penderitaan?

Perasaan manusia seperti penderitaan, kebahagiaan dan harapan, semua ini hanyalah sebuah perasaan semata.

Sang Buddha memberitahukan kepada kita, penderitaan “Aku” ini bukanlah aku yang sebenarnya.

Apakah kalian memahami makna kalimat ini?

Maksudnya adalah ini hanyalah sebuah perasaan, hanya sebuah pikiran kamu yang berhenti dan terus memikirkan akan penderitaan. Setelah kamu berpikiran jernih, maka semua perasaan ini akan hilanh seketika;

Selama tidak bisa mengerti apa sebabnya, perasaan menderita ini akan terus berada di dalam hati kamu.

Inilah alasan untuk tidak membuat pikiran kamu berhenti dengan perasaan “Aku” menderita.

Saya tanya kalian satu pertanyaan, Disaat kalian menderita, bukankah “Saya sangat menderita”?

Dan disaat bahagia, bukankah “Saya sedang bahagia”?

Ada kata “Saya” di kedua kalimat ini kan.

Jika begitu, pikirkan lah hal yang membuat “Saya” bahagia, mencari perasaan kebahagiaan dan jangan tenggelam di dalam perasaan penderitaan “Saya”.

Ini adalah Filosofi yang diajarkan oleh Sang Buddha, ini adalah kebenaran, hanya diri sendiri lah yang bisa merubahnya.

Menjalani hidup di dunia ini, janganlah melekat kepada perubahan sesuatu benda.

Apa yang akan terjadi jika terjadi perubahan? Kamu akan menderita, ini pun juga hanyalah sebuah perasaan semata.

Perubahan yang terjadi diluar membuat kamu bergairah dan bahagia, ini pun juga hanya sebuah perasaan semata, dan tak butuh waktu lama untuk menghilang.

Semoga dengan penjelasan ini, kalian bisa memahami untuk tidak melekat akan segala perubahan yang ada, termasuk perasaan hati kamu.

Perasaan hati seperti bahagia dan menderita, semua itu adalah ilusi, akan menghilang dengan cepat.

Secepat kamu bahagia di pagi hari, dan menderita di sore hari;

Bahagia sebentar di sore hari, dan menderita lagi di malam hari;

Merasakan kebahagiaan di pagi hari, dan menderita di sore hari; Ketika malam tiba, merasa bahagia lagi.

*Inilah yang disebut dengan ketidakkekalan.*

Inilah alasan mengapa Bodhisattva mengajarkan untuk bisa menahan “perasaan”, kita harus mengetahui bahwa “perasaan” ini adalah ilusi, bukanlah “Saya” yang asli, tapi “Saya yang palsu”.

Misalnya, disaat kamu ingin meluapkan amarah, “orang yang marah ini” adalah saya yang palsu, karena saya yang asli adalah seseorang yang bermartabat yang tidak akan meluapkan amarahnya.

Saya yang palsu ini adalah Arwah yang baru saja menempel di tubuh atau ada aura buruk yang mempengaruhi dan membuat kamu marah. *Ini adalah saya yang palsu, Saya yang asli adalah seseorang yang bisa menyelesaikan masalah dengan baik.*

Sang Buddha mengajarkan kepada kita, dengan memiliki pikiran seperti ini, maka kamu baru bisa terbebaskan.

Sudah sejak dari 2500 tahun yang lalu, Sang Buddha telah mengajarkan kepada kita cara untuk menyelesaikan masalah kehidupan yang sampai hari ini kita masih belum bisa mendapatkan solusinya.

Beliau bisa menggunakan kebijaksanaan Buddha dan mengajarkan kepada kita bagaimana menyelesaikan semua permasalahan dan penderitaan jasmani dan rohani yang kita alami, Jasa beliau sangat besar.

Sang Buddha bersabda, Kekhawatiran kita terhadap proses lahir, tua sakit dan mati,

“Bagaimana kalau nanti kita meninggal? Bagaimana jika nanti kita sakit? Siapa yang akan mengurus kita ketika tua nanti? Bagaimana ini?”

Kamu terus hidup di dalam kekhawatiran, kesedihan, penderitaan memikirkan semua ini.

Bagaimana Sang Buddha mengajarkan kita untuk menyelesaikan masalah ini?

Sang Buddha bersabda, Seseorang yang sesungguhnya merasakan penderitaan, maka dia tidak akan mendapatkan pembebasan.

Sang Buddha mengatakan, Hal yang akan kamu alami mengenai proses “Lahir, Tua, Sakit dan mati”, dan kamu menderita, khawatir dan sedih akan hal ini.

Kamu mengira bahwa ini adalah “Nyata” dan menderita akan hal ini, semua ini tidak akan membuat kamu terbebaskan;

Jika ingin terbebaskan dari semua ini, kamu harus memahami bahwa, penderitaan ini hanyalah sementara dan akan berubah, karena “Penderitaan” ini tidaklah kekal.

Siapa di dunia ini yang tidak menderita? Siapa di dunia ini yang tidak mempunyai masalah? Dan Mengapa mereka bisa melewati semua permasalahan dan rintangan itu?

Karena mereka bisa melihat masa depan bahwa suatu hari pasti akan berubah, ini adalah cara untuk terbebaskan.

*Dengan tidak menganggap bahwa diri sendiri sedang menderita, karena ini adalah “Saya yang palsu”, dan bukan saya yang asli.*

Seperti kebanyakan orang yang mengatakan, “Hari ini saya menderita, tapi besok saya akan melalui ini semua dan bisa menikmati hidup”, Benar tidak?

Banyak para ibu yang membesarkan anaknya dan berharap suatu hari nanti mereka akan berbakti kepada orang tua.

Menderita membesarkan anak hingga besar dan tidak pernah memikirkan bahwa suatu hari nanti apakah anak ini akan berbakti dan bersikap baik kepadanya, Ini adalah sebuah perasaan jiwa yang sedang berubah.

Di kala seorang ibu sedang menderita tetapi dia tidak pernah berpikir bahwa dia sengsara, karena ini adalah “Saya yang palsu”.

Sang Buddha mengatakan kepada kita, “KeAkuan” manusia adalah untuk membuat kita mengerti bahwa segala sesuatu dunia ini terus berubah dan tidaklah kekal, jadi tidak ada “Aku”.

Nama keluarga yang kamu miliki saat ini, di esok hari, nama ini akan berubah, tapi Apakah dulu kala itu masih ada kamu?

Misalnya, Ada seorang teman kita bernama Budi, kemudian dia memberitahukan bahwa dia sudah mengganti namanya, dan kita semua menyebut nama dia yang baru, Apakah “si Budi” ini tidak ada lagi? Apa makna dari contoh ini? Inilah yang dimaksud dengan Tidak ada “Keakuan”.

Semua nama itu adalah palsu, nama yang kamu miliki dulu dan jika kamu mengganti ke nama baru, Mungkin orang-orang akan bertanya “Siapa dia? Oh, si Budi.”

Manusia sungguh sangat kasihan, semua ini adalah Ketidakkekalan.

Harap diingat, tidak ada satupun benda di dunia ini yang akan bertahan selamanya dan tidak berubah.

Dalam berbisnis juga akan mengalami pasang dan surut, sekarang bisnis baik, besok kurang baik, besok baik lalu tidak baik lagi.

Hari ini saya menderita, besok tidak menderita. Besok tidak sengsara, lalu akan sengsara lagi.

Sang Buddha mengajarkan kepada kita tidak ada “Saya” yang abadi dan tidak berubah.

Sekarang, Saya tanya kalian satu pertanyaan, Karakter dan sifat kalian ketika kecil apakah sama dengan sekarang? Sudah pasti berbeda. Apakah Abadi? Tidak abadi.

Semasa kecil kamu sangat dermawan, tetapi mengapa semakin beranjak dewasa menjadi semakin pelit?

Semasa kecil sangat pelit hingga bertengkar karena satu mainan, tapi mengapa begitu beranjak dewasa semakin dermawan?

Tidak ada “Saya” yang abadi, kamu telah berubah.

Semasa kecil kamu tidak cantik, tapi beranjak dewasa, semakin cantik, inilah yang orang-orang sering katakan “Begitu seorang perempuan berumur 18 tahun, dia akan terlihat semakin cantik”, inilah maksudnya.

Manusia pun juga seperti itu.

Jika memiliki hati nurani, nasib kamu akan semakin baik jika berjalan di jalan yang benar.

Dan nasib akan berubah buruk, jika berjalan di jalan yang salah, semua ini adalah pilihan kamu sendiri.

Sang Buddha mengajarkan kepada kita, Tidak ada satupun “Saya” yang abadi dan tidak berubah, dan juga tidak ada satu pun benda yang akan kita miliki selamanya.

*Ingat, satu kalimat dari Sang Buddha: “Tidak ada satupun benda yang bisa kita miliki selamanya.”*

Apa yang kita miliki? Disaat kita meninggalkan dunua ini, apa yang kamu miliki? Semua itu akan menjadi milik orang lain, Mobil, Rumah, Istri, Suami.

Disaat kamu meninggalkan dunia ini, maka pasangan kamu bisa menikahi orang lain; Atau bahkan setelah kamu meninggal, mungkin anak dan cucu akan melupakan kamu, sampai lupa di gunung mana kuburan kamu berada.

Inilah yang dikatakan oleh Sang Buddha 2500 tahun yang lalu, bahwa tidak ada satupun benda yang bisa kita miliki selamanya, semuanya tidak kekal.

Harap diingat, tidak ada satupun benda di dunia ini yang akan bertahan selamanya dan tidak berubah.

Dalam berbisnis juga akan mengalami pasang dan surut, sekarang bisnis baik, besok kurang baik, besok baik lalu tidak baik lagi.

Hari ini saya menderita, besok tidak menderita. Besok tidak sengsara, lalu akan sengsara lagi.

Sang Buddha mengajarkan kepada kita tidak ada “Saya” yang abadi dan tidak berubah.

Sekarang, Saya tanya kalian satu pertanyaan, Karakter dan sifat kalian ketika kecil apakah sama dengan sekarang? Sudah pasti berbeda. Apakah Abadi? Tidak abadi.

Semasa kecil kamu sangat dermawan, tetapi mengapa semakin beranjak dewasa menjadi semakin pelit?

Semasa kecil sangat pelit hingga bertengkar karena satu mainan, tapi mengapa begitu beranjak dewasa semakin dermawan?

Tidak ada “Saya” yang abadi, kamu telah berubah.

Semasa kecil kamu tidak cantik, tapi beranjak dewasa, semakin cantik, inilah yang orang-orang sering katakan “Begitu seorang perempuan berumur 18 tahun, dia akan terlihat semakin cantik”, inilah maksudnya.

Manusia pun juga seperti itu.

Jika memiliki hati nurani, nasib kamu akan semakin baik jika berjalan di jalan yang benar.

Dan nasib akan berubah buruk, jika berjalan di jalan yang salah, semua ini adalah pilihan kamu sendiri.

Sang Buddha mengajarkan kepada kita, Tidak ada satupun “Saya” yang abadi dan tidak berubah, dan juga tidak ada satu pun benda yang akan kita miliki selamanya.

*Ingat, satu kalimat dari Sang Buddha: “Tidak ada satupun benda yang bisa kita miliki selamanya.”*

Apa yang kita miliki? Disaat kita meninggalkan dunua ini, apa yang kamu miliki? Semua itu akan menjadi milik orang lain, Mobil, Rumah, Istri, Suami.

Disaat kamu meninggalkan dunia ini, maka pasangan kamu bisa menikahi orang lain; Atau bahkan setelah kamu meninggal, mungkin anak dan cucu akan melupakan kamu, sampai lupa di gunung mana kuburan kamu berada.

Inilah yang dikatakan oleh Sang Buddha 2500 tahun yang lalu, bahwa tidak ada satupun benda yang bisa kita miliki selamanya, semuanya tidak kekal.

*Sebagai seorang praktisi Buddhis harus bisa melewati ketidakakuan terhadap perubahan lingkungan luar ini.*

Bagaimanapun perubahan yang terjadi pada orang itu, kamu masih tetaplah “Saya” yang dulu, karena kamu sekarang memahami bahwa dunia ini terus berubah.

Saya percaya bahwa teman-teman di sekeliling kamu juga terus berubah kan.

Misalnya, kamu sudah membuat janji *besok Jam 11* akan pergi dengan dia ke suatu tempat. Kemudian, berubah “Jam 11.30 yah”

Lalu, berubah lagi, “Aduh, saya tidak bisa keluar rumah, jam 2 siang yah?”

Lalu berubah lagi, “Jam 14.30 yah”

Dan setelah menunggu dia seharian, akhirnya, “Aduh, Maaf yah, Hari ini sangat sibuk, tidak ada waktu, mohon maaf, Apa boleh besok?”

Berubah kan?

Misalnya kamu sangat mempercayai orang ini, tapi kamu tidak paham tentang “Ketidakkekalan”, kamu akan berpikir “Aduh, orang ini berubah terus”, kamu akan menderita akan hal ini.

Maka dari itu, Kamu harus belajar seperti Shifu, saya mengetahui bahwa segala hal di dunia ini tidaklah kekal, jadi disaat seseorang membuat janji dengan Shifu dan terus merubah janjinya, Bagi saya ini sangat wajar, karena memang tidak ada yang pasti di dunia ini dan terus berubah, Benar tidak?

Dengan berpikiran seperti ini, maka kamu tidak akan menderita.

*Tidak peduli seberapa besar perubahannya, kamu harus tetap diam dan tak berubah.*

*Memiliki pemahaman baru mengenai Ruang dan Waktu*

Contohnya, “Manusia memang seperti itu”. Bahkan statistik saja terus mengalami perubahan, hari ini ada berapa banyak orang, besok berubah angkanya, bukankah ini berarti Ruang dan Waktu terus berubah?

Hari ini seperti ini, besok seperti itu, tidak tahu apa yang akan terjadi keesokan hari, karena semua ini tidak kekal.

*Jika tidak memiliki persiapan pemikiran seperti ini, mungkin kamu akan merasa seperti ditipu oleh ketidakkekalan ini, dan menimbulkan masalah.*

Disaat “Ketidakkekalan” Dunia Alam Bawah menarik kalian turun ke bawah, *Apa yang dimaksud dengan “Ketidakkekalan”?*

Perbuatan baik dan buruk yang kalian lakukan semasa hidup, semua itu menentukan Apakah kalian bisa hidup lebih lama atau lebih pendek di dunia manusia.

Tetapi, mengenai bagaimana kalian menjalani kehidupan ini, satu kata untuk menjelaskannya “Ketidakkekalan”.

“Asalkan ketidakkekalan saya ini tiba, maka kamu akan meninggal.”

*Untuk apa lagi kamu bertengkar? Ribut? Membuat masalah? Apakah masih ada yang harus dijelaskan? Masalah apalagi yang tidak bisa dipikirkan secara jernih?*

Ajaran Dharma bertujuan untuk membuat kita memahami akan pemahaman baru tentang Ruang dan Waktu, lahir tua sakit dan mati hanyalah sebuah proses yang pendek, jangan melekat dan memikirkan hal ini;

Dengan begitu, kamu akan terbebas dari “Saya” yang kecil dan berubah ke “Saya” yang besar.

“Aduh, hidup ini singkat, dalam sekejap, puluhan tahun sudah berlalu. 40 tahun…, Aduh, sudah 45 tahun… Aduh, sudah mau 50 tahun…”

Sudah berumur, masih ingin melakukan apa lagi? Sui Yuan saja lah.

Bantulah orang jika bisa membantunya sedikit;

Ambil untung lebih banyak jika mendapatkan rejeki, dan untung sedikit ketika tidak bisa mengambil untuk banyak;

Bahagialah ketika bisa berbahagia, dan ketika tidak bisa bahagia, maka berusahalah untuk berbahagia sedikit.

Semua ini tidak kekal, Hari ini tidak bahagia, tapi setelah 2 hari berlalu akan bahagia lagi kan? Benar tidak?

Sekarang kamu bahagia, tapi belum tentu, di malam hari kamu akan bahagia.

Karena ada orang yang tidak senang ketika melihat kamu bahagia, dan akan mengeluarkan kata-kata tajam untuk kamu, kemudian kamu bersedih.

Semua ini terjadi karena ketidakkekalan datang, dan sangat cepat.

2020年3月7日白话佛法开示第八集

好,各位佛友们,今天继续给大家做《白话佛法》的开示。希望大家能增加智慧,在心里能够有更多的悟性来解脱自己身心健康方面的烦恼。

当年佛陀在舍卫国祗树给孤独园对比丘们曾经讲过,世界上外在的事物都是无常的,也就是说,在这个世界上,所有外在的事物都是没有长久的。任何的无常、任何不长久的,都会让人感受到一种痛苦。大家想一想,是不是这样?比方说,我们很喜欢一样东西,它不长久,离开的时候会不会痛苦?就是一件很好的衣服,你没穿几次,因为你身体发胖或者太瘦了,等到现在已经不能穿了,你必须要把它扔掉或者送给别人的时候,你也会有痛苦。这就是无常,这世界上的无常。

佛陀告诉我们,无常是一件很可怕的事情。任何一件事情、世界上的事物,只要你爱它、你拥有它,你只要喜欢或者不舍得,等到它无常来的时候,痛苦的时候,你就会更加难受。所以佛陀曾经告诉比丘们说:“其实这个无常不是你们真正的‘我’,不是真正的自己。”为什么佛陀这么说?佛陀说:“这个无常,它是不长久的,它不是自己真正的感受,它不该停留在这个痛苦的‘我’当中。”因为苦是“我受”,是“自我”,是“我”,著我相。这个意思就是佛陀让我们知道:佛陀认为,世界上任何的事物,不管这个世界上什么事物,因为这个不是你的,你必须不能著相。不是你的东西,你去停留在“以为是我的”,那么你就会在痛苦中停留,所以要离开这个痛苦。比方说,我们有一样东西,比方说你贷款买了一个房子,你觉得这个房子是你自己的,你非常高兴,又擦又洗,“这是我的房子”,对不对?等到你贷款还不出来,银行把它收掉了,你痛苦吗?你想清楚了,本来这个房子就不是你的,你就不会痛苦,因为这个房子是无常的,不属于你的,你这样想、用这种观念来看的话,那叫正信、正能量,人就不会生活在无常的痛苦中。

佛陀经常让我们拥有智慧。我们人有时候有一种无形的内心感受,“我很喜欢这件事情”“我很爱我的妈妈,爱我的朋友,爱我的同学”,甚至“我很爱吃这个菜”,这些都是无常的。菩萨认为,这些都是我们内心的一种感受而已。你今天觉得这件事情非常好,“哎呀,我感觉到很开心,这个是我的”,实际上,过一会儿,它就不是你的,只是一种感受。

举个简单例子,我们佛友非常累、很渴的时候,买了一杯奶茶,冰冻的,放在那里。“是你的吧?”“是我的,花钱买来的。”总是你的吧?是的。但是它无常,你刚刚走到边上去,一个人走过来,拿起来喝完了,等到你回来之后,“哎呀,对不起,这是你的?我喝了。”这杯奶茶都是无常的,你当时感觉心里那个难受、那个不开心,觉得他这种素质等等……一切一切,你是什么感受?那就是一种心里的感觉,而这种感觉,佛陀就是让我们懂得,你内心任何的一点痛苦也就是感觉,你感觉痛苦了,你就痛苦。如果同样一件事情,今天一个同事把你这杯奶茶喝掉了,你觉得“很好,我做功德,喝了就喝了。他需要喝,我再去买一杯不就得了吗?”你在内心当中的这种痛苦感觉不就没了吗?“哎呀,都是学佛人,他喝了更好。他功德做得大,他刚刚忙得不得了。”你这种心的话,你内心的痛苦感觉就没有了。

所以人活在一种内心的感觉中,痛苦、幸福、希望都是一种感觉。佛陀告诉我们,这个痛苦的“我”其实不是真正的我。大家听懂吗?就是今天你“痛苦的我”不是你的“我”,不是真正的“我”,只是一种感觉,只是你思维上停留在一种内心痛苦的感觉中。你想通了,这种感觉就没了;你没想通,这种感觉就一直在你心中。所以,不应该把自己的思维停留在自己内心痛苦的“我”的当中。我问你们一句话,你们痛苦的时候,是不是“我很痛苦”?幸福的时候,是不是有个“我很幸福”?都是一个“我”字吧?那么你把自己的心停留在幸福的“我”的当中,寻找那种幸福的感觉,而不是把自己的心去停留在痛苦的“我”的感觉当中,这就是佛陀讲给我们听的哲学观,这个叫真谛,完全可以自己转换的。

所以在这个世界当中,我们不要执著于任何一个外在事物的变化。变化了,怎么样呢?变化了,你痛了,也是一种感觉。外在事物的转变让你兴奋、让你幸福,那也就是一种感觉,很快会过去的。所以希望你们要懂得,不执著外在事物的变化,当中还要包括你内在的感受。你内在的感受、幸福和痛苦也是假的,很快就没了。你早上很痛苦,下午就不痛苦了;下午开心一点了,晚上又痛苦了;你早上很幸福,下午痛苦了;到了晚上,你又不痛苦了。这就叫无常。

所以菩萨让我们控制住自己内心的那种感受,要认识它,它是一种虚的,它不是真正的“我”,这是一个“假我”。比方说,你刚刚在发脾气的时候,其实这个发脾气的人是一个假我,因为真我是有修养的,你不大会发脾气的,这个假我是你刚刚身上有灵性,或者那种不好的气场影响着你,使你发脾气的。这是一个假我,真正的我是一个很有修养的人,是一个能解决问题的人。所以,佛陀告诉我们,你这样想的话,你才能得到解脱。我们伟大的佛陀在2500年之前,他所说的佛法就能够解决我们现在还没有解决的问题。他可以用这种佛的智慧,来解决我们身心产生的痛苦和烦恼,这就是伟大。

佛陀说,我们人对生老病死都有忧愁、害怕,“哎呀,死了怎么办?生病怎么办?以后晚年没人照顾了,怎么办?”一切一切,你都在忧愁当中,你在悲哀、你在痛苦、你在烦恼当中。佛陀是怎么教导我们认识这些问题的?佛陀说,认为真的是自己在承受着痛苦,所以才不得解脱。佛陀告诉我们,你认为“以后这些生老病死,我现在很痛苦、很烦恼、很悲哀”,你认为“这是我真正地、真实地在承受着痛苦”,所以你不得解脱;其实你要想解脱,你现在所有的痛苦都是暂时的,它会变化,因为它是无常的。你说哪一个人没有痛苦?哪一个人没有烦恼?人家为什么能度过来?因为他看到未来、看到前途,他看得到将来一切都会转变,这就是解脱的方法。没有认为自己承受痛苦,那是一个假我,不是真正的我。就像很多人说“现在吃苦,以后享受”,对不对?很多妈妈,把孩子从小养大,就希望以后孩子能够孝顺,现在小的时候吃苦,没想到孩子大起来之后会来孝顺她、对她好,这就是一种心灵的转变。所以母亲在自己吃苦的时候,没觉得自己在吃苦,因为这是一个假我。

佛陀告诉我们,人“无我”,就是让我们要明白,人在这个世界上,因为他一切都在变化无常,是无常的,所以就没有“自我”。你今天姓什么,明天变了一个名字,你过去的这个人还有吗?今天我们有一个小朋友叫李某某,突然之间他告诉我他名字改了,大家都叫他这个名字,你说过去李某某不就没了吗?这个是什么意思?就是无我了。名字都是假的,你过去姓什么,你现在姓什么,人家可能说“这个人是谁?哦,就是他啊。”人很可怜,就是无常。

记住了,在这个世界上,没有一件事物是永恒不变的。生意好了,会不好;不好了,会好。人痛苦了,会不痛苦;不痛苦,会再痛苦。佛陀让我们明白,没有永恒不变的我。我问你们,小时候你们的性格跟现在大起来性格一样吗?不一样的。永恒吗?不永恒的。小时候很大方,怎么越长越小气?小时候非常小气,一个玩具跟家里人吵来吵去、闹来闹去,大起来为什么变得这么大方?没有永恒的“我”,你变化了。小时候很难看,大起来越长越好看,所以人家说“女大十八变,越变越好看”,就这个道理。

我们人也是这样,有良心,你顺着正道走,越走越好,顺着邪道走,越走越不好,你的命越走越不好,全是你自己的选择。佛陀就是让我们知道,没有永恒不变的我,也没有任何东西是我们可以拥有的。你们要记住佛陀这句话:没有任何东西是我们可以拥有的。想想看,我们拥有了什么?当我们离开这个世界的时候,什么是你拥有的?一切都是别人的——汽车、房子,包括你的太太、你的先生,当你离开了这个世界,他(她)就可以另外嫁娶;当你作古多少年之后,可能你的孩子、你的孙子早就把你忘了,葬在哪个坟山上都不知道。这就是佛陀在2500年前告诉我们的事情,要让我们懂得,这个世界上永远没有任何东西我们可以拥有它,全是无常的。

因此学佛人要无我地超脱于外境的变换。人家怎么变,你还是原来的“我”,因为你知道这个世界变来变去。我相信你们身边有很多小朋友、很多学佛人经常变来变去。跟你讲好“我们明天上午去买东西,11点钟”,过一会儿,“11点半,好吗?”再过一会儿,“哎呀,跑不出来,两点半吧?”再过一会儿两点半,你好不容易等到他了,“哎呀,对不起,今天正好忙得不得了,没空了,实在抱歉。明天吧?”无常吗?变化吗?讲好的事情,一会儿变、一会儿变,你这个人非常相信他,因为你从来不知道佛陀讲的无常,“哎哟,这个人一会儿变、一会儿变”,你就会觉得痛苦。你要是跟师父一样,师父知道什么事情都是会变的,所以很多人跟师父约时间,一会儿变、一会儿变,我觉得很正常,因为这个世界本身就是无常的,都是变化的,有什么正常的事情,对不对?一切都是无常的,这样你就不会伤害自己。

所以,不管外面怎么变,你如如不动,自己不变。对时空(时间和空间)要有一个新的认识。新的认识是什么?“哎,人生就是这样”。你们看看,现在天天数据都在变化,今天有多少人,明天有多少人,数据都在变化,是不是时间和空间都在变化?今天怎么样,明天怎么样,今天不知道明天的,因为是无常。你不做好这个思想准备,你可能就被无常所欺骗、所烦恼。

地府的无常来拉人的时候,为什么叫“无常”?就是告诉你们,你们在人间做的事情,好的、坏的都是代表你们能够长住和短住,你们在这个人间能不能住得长、生活得长一点。但是怎么生活,最后给你们两个字——无常。“只要我无常一到,你们就走人。”所以有什么可以争、可以抢、可以闹的?有什么话不能解释?有什么事情不能想通?这就是佛法,就是让我们明白,对时空要有新的认识,生老病死只是一个短暂的过程,你不要执著于这些;脱离了这些、你不执著这些的话,你就脱离了小我,你会成全大我。“哎呀,人生真快,眼睛一眨,几十年了。四十了……哎呀,四十有五了……哎呀,要向五十岁奔了……”这么大年纪了,还折腾什么?随缘吧。做事情,能为别人多做一点,开心一点;能赚就多赚一点,不能赚,少赚一点;能开心多开心一点,不能开心,少开心一点。一切都是无常的,你今天不开心,你过两天又开心了呢?对不对?你今天很开心,说不定晚上就不开心了。因为有的人就是看到你开心了,他难受,他就弄几句话给你听听,接下来你就马上不开心了。这就是无常到来,快得不得了。