Kutipan BHFF 54 *Melepaskan Kemelekatan, Mencari kembali Sifat Dasar*

Setiap hari kita membina diri, Sifat apakah yang harus kita hilangkan, jawabannya adalah keras kepala, Sifat buruk manusia adalah keras kepala.

Jika kamu membina diri tapi tidak bisa menghilangkan sifat keras kepala ini, Lalu Apa yang sedang kamu latih?

Sebagai seorang praktisi Buddhis harus memahami untuk menghilangkan sifat keras kepala, dan tidak peduli dimana kamu melatih diri, apakah itu dirumah atau dimana saja, kamu harus bisa melatih diri secara ketat di kehidupan sehari-hari.

Banyak orang mengira membina diri berarti membaca paritta di dalam rumah, bersembah sujud di Kelenteng, sebenarnya membina diri adalah harus bisa mempraktekkannya di dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak sepanjang hari kita bersemedi, bersembah sujud, membaca paritta, memegang tasbih Buddha, dan setelah membina diri untuk bertahun-tahun, tetap tidak bisa merubah tabiat emosi buruk dan sifat buruk lainnya.

Masih tetap keras kepala disaat yang tidak tepat, masih tetap memiliki kerisauan yang sama, tabiat yang sama, sikap dan prilaku yang sama, Bagaimana kamu bisa membina diri dengan baik?

Ini bukanlah pembinaan diri yang benar, asalkan kamu masih tetap keras kepala maka kamu masih belum benar-benar memasuki pembinaan diri.

Orang yang sebenarnya membina diri adalah orang yang memahami untuk terus berubah dimana pun dia berada.

Kamu bisa menganggap pekerjaan yang kamu lakukan hari ini sebagai sebuah tempat untuk membina diri.

Jika kamu hari ini hanya berada di dalam rumah, maka kamu bisa menganggap rumah sebagai “Mandala”.

Apapun karir kamu, apapun pekerjaan yang kamu lakukan, pembinaan diri kamu harus bisa membaur dengan pekerjaan yang kamu lakukan.

Menghadapi situasi apapun, kamu harus memahami, setiap perbuatan yang kamu lakukan, setiap kalimat yang kamu ucapkan, semua ini adalah sedang melatih diri untuk mencari Sifat dasar dan Hati dasar kita, ini adalah pelatihan diri.

Walaupun kondisi faktor lingkungan luar terus berubah, tetapi kita harus bisa tetap bersikap tenang dan hati kita tidak berubah.

Mengeluarkan seluruh kemampuan kamu yang terbaik dalam setiap pekerjaan dan tanggung jawab yang dilakukan dan sepenuhnya bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan.

Mempelajari Dharma harus fokus dan setulus hati, yang artinya setiap perbuatan yang kita lakukan, itu berarti sedang melatih diri.

Kamu bisa menganggap pekerjaan yang kamu lakukan sebagai semua makhluk hidup.

Memikirkan kebaikan dan manfaat untuk semua orang di kehidupan kamu seperti orang tua, kakak dan adik.

Sepenuh dan setulus hati memperlakukan setiap orang dengan baik, memperhatikan, menyayangi, memahami keadaan mereka, memaafkan dan perlakukan mereka seperti keluarga kamu sendiri.

Dengan melakukan semua hal ini, itu berarti kamu sedang membina diri dimana pun kamu berada, tidak peduli akan perubahan faktor lingkungan luar yang terjadi, tapi kamu tetap terus dalam pembinaan diri, inilah alasan mengapa kita tidak perlu memohon akan balasan apapun.

Karena pengorbanan yang kita lakukan kepada kehidupan bersosial ini, kita akan selalu merasakan kebahagiaan dalam pembinaan diri kita.

Karena menolong orang pasti akan merasakan kebahagiaan, dan inilah alasan mengapa karir kamu akan lancar, tidak khawatir akan menghadapi segala rintangan karena tidak tepat janji, terkadang kurangnya ketekadan kita atau mendapat masalah di pekerjaan karena ingkar janji, membuat kita mulai merasa tidak bahagia, lalu berpikir, Mengapa saya membina diri tapi masih mendapatkan banyak masalah?

Sebenarnya setiap permasalahan yang muncul itu berarti adalah kamu sedang menciptakan sebuah kesempatan untuk mendapatkan hati Bodhi, karena kamu memiliki kebijaksanaan, bisa menggunakan Bodhi untuk mengikis halangan di dalam hati, melatih hati dasar, menaikkan derajat dan menumbuhkan kebijaksanaan kamu dengan tingkat kesadaran.

Dalam menjalani kehidupan ini, sebenarnya kamu bisa menganggapnya seperti berada di Tanah Suci (Surga), contohnya: Hari ini saya hidup di masyarakat tanah suci ini, kita berada di tempat yang tenang, inilah alasan yang bisa membuat kita tidak menjadi melekat, kita harus terus membersihkan hati dan lingkungan hingga bersih, seperti di Alam Tanah Suci yang tertata dengan rapi dan megah.

Tidak sembarangan melakukan candaan, terlihat berwibawa, tidak mengatakan candaan kotor, tidak berpikir hal yang tidak baik, maka perlahan-lahan kamu akan memasuki kemurnian dan penuh wibawa.

Tidak perlu mempedulikan seberapa banyak yang telah mereka kerjakan dan membandingkan dengan seberapa banyak yang telah kamu lakukan.

Tidak perlu takut akan kesusahan dan terus menjalani hidup tanpa mengeluh, sebenarnya semua ini adalah pelatihan diri, yaitu sebuah tugas untuk lebih tekun dan giat lagi.

Sama seperti ibarat kita sedang menjadi seorang sukarelawan, terkadang kita harus membersihkan debu, ini artinya sedang mengikis karma, banyak orang yang tidak memahami untuk bekerja keras.

Inilah alasan mengapa ketika kamu pergi ke kuil, lalu Biksu meminta kamu untuk membersihkan lantai, mengelap meja, semua ini bertujuan agar kamu mengerti untuk membersihkan diri, Mengapa kamu harus bersih? Karena disaat kamu membersihkan debu duniawi, disaat yang bersamaan kamu sedang membersihkan jiwa kamu.

Shifu ingin menjelaskan kepada kalian, membuang sampah itu berarti sedang membuang permasalahan kamu, karena semua kegelisahan pikiran kamu adalah sampah.

Kamu harus menganggap semua orang, keluarga yaitu papa mama anak-anak, bahkan para teman sedharma sebagai Semua Makhluk hidup, melihat mereka seperti Teman Jin Gang, mereka semua adalah Bodhisattva di masa depan.

Kamu akan mendapatkan berkat jika memperlakukan mereka dengan baik.

Kamu akan mendapatkan perlindungan dari Dewa Pelindung Dharma jika menjaga mereka dengan baik.

Kamu akan mendapatkan Prajna kebijaksanaan jika menghormati mereka.

Kamu akan mendapatkan penghormatan, jika tidak mencelakai mereka.

Menjalin jodoh dengan baik dengan tidak membenci dan mengeluh kepada mereka.

Setiap orang yang hidup di dunia ini memiliki sebab jodohnya masing-masing, memiliki balasan berkahnya masing-masing.

Kekerasan kepala kamu malah akan mencelakai kamu sendiri, jika kamu bersikeras ingin anak sekolah baik, yang terjadi malah sebaliknya.

Kamu bersikeras harus mendapatkan keuntungan yang banyak, pada akhirnya malah tidak untung.

“Sifat keras kepala” malah akan mencelakai kamu, jadi semakin kamu bersikeras akan seseorang, dia malah akan menyakiti kamu.

Semua ini karena kita masih hidup di dunia manusia, tidak mungkin bisa mendapatkan kesempurnaan, karena semua ini bagaikan gelembung mimpi, bagaikan embun dan listrik, harus bisa melepaskan segala mimpi.

Jangan memikirkan hal yang tidak perlu dipikirkan, ini malah akan menyakiti kamu, harus bisa melepaskannya.

Shifu tidak meminta kamu untuk menyerah, *Kamu harus tetap menjalankan tugas dan tanggung jawab yang harus kamu lakukan di dunia ini, bukan hanya sekedar menjalankannya, tetapi harus bersungguh-sungguh menjalankan setiap tugas dan tanggung jawab sebaik-baiknya.*

 

Hidup bagaikan sedang bermain film, di hari pertama kamu terlahir ke dunia ini, cerita perjalanan hidup kamu sudah mulai tayang, kamu harus berakting, tidak boleh tidak.

Hanya saja, dalam proses bermain film ini, kamu harus sepenuhnya mengerti bahwa, *Saya Sedang Berakting.*

Sekarang kamu sudah memahami bahwa kehidupan manusia ini bagaikan sedang bermain film, Maka mainkan lah peran ini hingga episode terakhir.

Dan seharusnya kamu sudah tidak perlu mempercayai bahwa tidak perlu kita melekat akan apapun di dunia ini.

Di atas panggung kamu berperan sebagai suami istri, sebagai seorang putra atau putri, Asalkan kamu bisa memainkan peran ini dengan baik, maka jangan kamu anggap bermain film ini (Dunia Manusia) sebagai sesuatu yang nyata.

Banyak orang yang menganggap kepalsuan (Dunia Manusia) sebagai Asli, dan pada akhirnya mereka tidak bisa melepaskan keduniawian ini.

Sebenarnya dunia manusia bukanlah rumah kita, rumah kita sebenarnya adalah Di atas langit, hidup bersama Bodhisattva di atas langit.

Kita hanya bertamu di dunia manusia ini, Tidak perlu melekat akan apapun terhadap duniawi, Pikirkan kembali, Sejak dilahirkan ke dunia ini, telah berapa lama kita melekat akan banyak hal?

Dari kecil hingga dewasa,
Dari sekolah lalu bekerja dan berumah tangga, kemelekatan kita terhadap duniawi telah membuat kita menjadi seseorang yang terlalu perhitungan, menjadi seseorang yang egois, bagaikan seorang Arwah yang tidak bisa melihat teriknya matahari.

 

Jika setiap orang dari kita bisa mengurangi satu kalimat yang akan diucapkan, maka dunia ini akan bertambah satu poin kedamaian.

Jika setiap orang dari kita bisa mengalah satu kali saja, maka itu bisa menambah satu poin tingkat kesadaran welas asih.

Jika setiap orang bisa bertoleransi, mengetahui bahwa dunia ini adalah ilusi, kita tidak akan rugi jika mau mengalah selangkah.

Oleh karena itu, kita tidak boleh hanya terus memikirkan keuntungan pribadi, tetapi harus lebih banyak memikirkan orang lain. Jika kamu hanya terus memikirkan diri sendiri, maka kamu tidak akan bisa menghilangkan sifat egois, kecintaan terhadap diri sendiri dan mementingkan kepentingan pribadi, inilah alasan kamu tidak bisa hidup disaat ini.

Coba bayangkan, para umat yang sedang duduk di tempat ini, siapa dari kalian yang senang berteman dengan orang yang egois, seseorang yang tidak memiliki welas asih, tidak memiliki hati Bodhi, seseorang yang tidak bisa memaafkan orang lain.

Disini Shifu menjelaskan kepada kalian, membina hati harus melatih diri sesuai aturan dan hukum yang berlaku, melakukannya setulus hati, maka secara alami mereka akan menghormati kamu, Kewibawaan kamu akan timbul.

Orang yang menyukai kamu adalah karena mereka bisa memahami kamu, karena kamu bisa memaafkan orang lain, dan orang lain akan membalas kamu dengan cinta yang lebih besar.

Sikap dan Prilaku yang kamu tunjukkan kepada mereka, sebenarnya itu bertujuan agar mereka membalas sikap dan prilaku seperti yang kamu berikan kepada mereka.

Jangan terus mengeluh, jangan terus mencari kelemahan orang lain, tidak suka melihat siapapun, jangan memiliki pikiran untuk merubah orang lain. Kamu harus bisa mengatur emosi dengan baik, membina diri dengan baik.

Harap diingat, Jika semua hal bisa berubah mengikuti keinginan hati kamu, maka kamu bisa mengendalikan keadaan itu, Inilah Alasan mengapa Shifu mengatakan untuk bisa berhati besar dan bertoleransi akan segalanya.

Terkadang ketika kita berpikiran buntu, melihat semua orang tidak baik dipandangan kita.

Dan disaat kita berpikiran jernih, melihat semua orang sangat baik dipandangan kita, melihat sekeliling kita adalah baik, ini artinya hati kamu lah yang berubah mengikuti keadaan, hati kamu berubah mengikuti kebaikan.

Tapi jika kamu melihat situasi yang tidak sesuai keinginan dan kebiasaan kamu, maka kamu akan mencari kekurangan dia, tapi tidak bisa melihat kekurangan diri sendiri, maka kamu pasti tidak akan bisa menghilangkan keAkuan dan kemelakatan.

Membina diri adalah melatih untuk melepaskan kemelakatan, jika tidak, Apa yang sedang kamu latih?

Hidup membina diri dan diiringi dengan bekerja adalah selaras, karena di dalam lubuk hati terdalam semua orang memiliki sifat keBuddhaan, tetapi karena kita terlahir di dunia manusia yang penuh dengan 5 hawa nafsu dunia fana, setiap hari membuat kita terus pergi dan mencari kesana kemari tetapi melupakan bahwa kita sedang kehilangan jati diri, tidak mengetahui apa yang terpenting di dunia ini?

Benda paling berharga di dunia ini telah kita hilangkan, melupakan hati nurani kita.

Perbuatan yang kita lakukan sehari-hari seperti bersikap kasar, memarahi atau menghina orang lain, itu berarti kita telah kehilangan sifat dasar dan hati nurani kita.

Kita tidak bisa menemukan kedua hal ini dan malah mencari pikiran kotor akan keserakahan dan hawa nafsu di dalam 5 nafsu dan 6 debu duniawi, dan tidak bisa menemukan sifat keBuddhaan kita yang asli berada di dalam hati kita, maka dari itu, harus memiliki keyakinan untuk bisa mencari sifat dasar dan sifat keBuddhaan.

Seberapa tinggi tingkat keyakinan kamu, maka seberapa besarlah keberhasilan yang akan kamu raih di duniawi ini, baik-baiklah belajar Dharma, terus membina diri, maka pada akhirnya kamu akan terbebaskan.

Orang yang bisa menjadi seorang Buddha haruslah memiliki keyakinan, dan mampu menahan diri akan keAkuan dan kemelekatan, kemudian mengandalkan kerja keras untuk terus maju, memahami bagaimana menjalani hidup di dunia manusia, mencari sifat KeBuddhaan kita, semua aspek inilah yang menjadikan kita sebagai seorang Praktisi Buddhis

我们修心 实际上,要修掉自己身上最主要的是什么,就是执著,人的毛病就是执著,如果你修心不把执著修掉,那你修什么心,所以我们学佛一定要懂得,要把执著修掉,而且修心不管你是在家里 在哪里,你都要严格地在生活当中进行修心,很多人以为修行,在家里念念经,有的人以为到庙里去磕磕头,实际上修心最重要的,就是要在修行当中生活,在生活当中修心。

我们不是整天打坐,磕头 念经 拨那个佛珠,然后修了很多年了,结果坏脾气还是坏脾气,改不了的地方还是改不了,自己经常执著的时候还是执著,烦恼依旧 性格依旧 心态依旧,你没有任何改变,你怎么能够修好心呢,这不是真正地修行,只要你执著还在,你这个人还不是真正地修行,真正地修行的人要不管在哪里,都要懂得学会改变,今天工作环境你也把它当成一个道场,今天你在家里 你把它当成一个坛城,无论你从事什么职业,无论你做什么工作,你修心要融入你的工作当中去,所以面对环境,你要懂得每一件事情 每一句话,都是在锻炼我自己的本性和心性,都是在锻炼自己,锻炼我们人的一颗心,怎么样能够定 怎么样能够平静,外境怎么样地变化,我的内心都不要去变。

尽自己的心和义务和责任,在人间尽心尽力地做好你每一件事情,承担你一切,把你的心制心一处,因为我们学佛修心要一心一意,制心一处,所以用心去做每一件事情就是在修行,你把工作的对象看成是众生,看成是你的父母 兄弟姐妹,一切为他们的利益着想,以真诚的心去对待每一个众生,去关心他们 去爱护他们,去理解他们 去体谅他们,你这样才能做众生的亲人,你这样就是走到哪里修到哪里,不管环境怎么变,你一直在修行当中,所以我们不求任何回报地,在这个社会当中去奉献,我们不管怎么样修心,我们的心要无比地快乐,因为救人的人心态一定要快乐,所以你的事业你的工作就会顺利,不要怕遇到违愿的障碍,有的时候愿力不强,有的时候碰到了很多烦恼 违愿的,那么有障碍了,那么你就开始不开心了,我学佛修心怎么有这么多的烦恼,实际上任何一个烦恼的出现,就是给你创造了一个,能够得到菩提的机会,因为你可以用智慧 用菩提,能够来消掉你自己的心中的障碍,历练你的心性,提高你的层次,用境界增长你的智慧。

我们的生活,实际上你就要把它当成净土,我们今天在这个净土的社会当中,我们所处的环境就是在寂静之处,所以我们才会不执著,我们要把自己的内心,把自己的环境打扫得干干净净,就像净土世界一样,布置得清净庄严,不乱讲各种各样的笑话,庄严自己,不乱开玩笑 不说下流的话,不去乱想其他不好的事情,你慢慢地就会清净庄严,有的时候不要去顾忌别人做多少,看看你自己做了多少,学佛当中的任劳任怨,实际上就是一种修心,就是一种精进的义务,就是我们说像义工一样,有的时候你要擦掉灰尘,就是要擦掉你的业障,很多人一辈子不知道应该劳动,所以为什么很多庙里,当你去的时候,法师就叫你好好地拖地,好好地擦桌子,好好地明白你为什么要清净,你为什么要干净,因为擦的人间的尘土,同时也在擦掉你心灵上的尘埃。

师父要你们懂得,扫除垃圾就是扫除你的烦恼,因为你的烦恼在你的心中就是垃圾,你要把家人和亲人都当作你的众生,你要把所有的父母众生 儿女众生,包括你所一起共修的佛友,把他们当成金刚道友,都是未来的菩萨,你对他们的关心会得到菩萨的加持,你对他们的照顾会得到护法神的护佑,你尊重他们 你会得到般若智慧,你不伤害他们 你会得到别人的尊敬,你不怨恨他们 你就是广结善缘,人活在这个世界上各有各的因缘,每个人有每个人的福报,你执著什么 什么就会伤害你,你执著了自己的孩子一定要读书好,慢慢地 孩子没读书好 就伤害你了,你执著地 我一定要多赚点钱,最后钱没赚到,它就伤害到你的心了,所以你执著谁 谁就会伤你的心,因为我们在人间,不可能有那么多的圆满的事情,因为一切都如梦幻泡影,如露亦如电,你要放下所有的妄念,因为不应该想的去想了,就会造成对你的伤害,你放下,师父不是叫你放弃,你该做的人间的事情,你该做的还要去做,不但要去做,而且尽自己的心把它去做好。

人生就像一出戏,你的人生从生出来的第一天,你的戏就开始开场了,你要演下去,你不能不演下去,只是你在演出的过程当中,你要明明白白 清清楚楚地知道,我在演戏,既然你知道你的人生,就像演戏一样的 会结束的,那你就不应该相信,这个世界上还有很多东西,可以为你所执著,你在舞台上的夫妻,你在舞台上的女儿 儿子,你只是在演好你这个角色,你不能把假戏当成真戏来做,所以很多人把假的以为是真的,到了最后放不下,其实人间并不是我们的老家,我们真正的家 那是在天上,和菩萨在一起的天上,我们在人生,只不过是匆匆而过的过路客,有什么可以执著的,想一想,我们的一生执著了多少事情,从小到大,从学校一直到社会 到家庭,我们的我执已经把我们计较得,像一个自私的人,像一个不能见到阳光的一个灵性。

我们每个人的心中少说一句话,这个世界就会多一分平和,我们每个人谦让多一分,我们就会多一分慈悲的境界,我们每个人海阔天空,知道这是虚幻的,退一步又能给你带来什么伤害呢,所以凡事不能只考虑自己的利益,要多为别人对方着想,你只经常地为自己想,你去不掉自己的自私 自爱 自利,所以你就不能活在当下,试想一下,你们在座的所有的佛友们,你们谁喜欢一个很自私人,谁能够喜欢一个没有慈悲心,没有菩提心,没有原谅别人包容心的人,所以师父跟你们讲,修心就是如理如法地修,真心诚意地去做,别人自然就会尊重你,你的庄严就会到,喜欢你的人就是因为能够理解你的人,能够多多地原谅别人,别人会给你更多的爱,你怎么样对待别人,实际上就是让别人来怎么样对待你。

我们人不能总是怨天尤人,我们不要总是挑别人的毛病,看别人不顺眼,不要总想去改变别人,你要调整好自己的心态,修好自己的心,你记住了,一切境如果都随着你的心而改变,那你就能驾驭这个环境,所以师父叫你们要以宽阔的胸怀,去包容社会的一切,有的时候我们会有想不通,看一切人都是不好,但是有时候我们又会想得通,看一切人都是好人,看一切境界都是好的境界,那么你的心就是随着善而在改变,如果你看到社会上都是不顺眼的,看不惯的,你经常去查别人的缺点,而看不到自己的缺点,你一定不能去掉自我,你一定放不下执著,所以修行就是修执著,就是去掉我执,否则你修什么,修心和生活 工作,一切都不矛盾的,佛性因为是我们每个人都具有的,我们人因为进入了人间这个五欲红尘当中,每一天奔走在寻找,忘记 失落的自我,不知道活在这个世界上,什么是最重要的,最宝贵的东西,我们丢失了,我们忘记了我们的良心,在做每一件事情,对每一个人很厉害,或者咒骂他 或者忌妒他的时候,我们丢失了我们最原始的本性和良心,所以我们找不到了,而去天天在社会上找那些,五欲六尘当中的肮脏的贪念欲念,真正的佛在自己心中我们却找不到,所以一定要有信心,一定要从自己内心去寻找本性,本原的佛性,能够有多大的信心,在人间你就会成就有多大,好好地学佛 坚持修心,你就会好好地得到解脱。所以能够成佛的人,首先他是有信心,而后他能克服自己的我相和我执,然而靠着自己精进的努力,懂得怎么样在生活当中,去寻找我们的佛性,那才是真正的学佛之人。

摘自于白话佛法第54集《放下执着 寻找本性》