*Kutipan Video BHFF episode 92, 20 Juni 2020*
*Kata “Mati”*

Sekarang Shifu akan menceritakan sebuah kisah kepada kalian.

Ketidakkekalan hidup membuat orang-orang berpikir mengenai arti kehidupan yang sebenarnya, dan kebenaran atas kehidupan duniawi ini, memanglah tidak kekal.

Jika manusia bisa melewati rintangan kehidupan, dia bisa meneruskan kehidupannya.
Sebaliknya, jika dia tidak berhasil, maka dia akan meninggal dunia.

Ada begitu banyak manusia yang begitu saja meninggalkan duniawi, Apakah ada yang bisa dia bawah pergi? Tidak ada satupun yang bisa dibawa pergi.

Kehidupan membuat kita berpikir tentang kematian. Tidak ada seorangpun yang bisa berani mengatakan dengan pasti apa yang akan terjadi di masa depan, apa yang akan terjadi setelah kematian.

Walaupun kematian adalah hukum yang tidak bisa ditawar, tetapi, kematian juga membuat kita merasa tidak berdaya dan hanya bisa menerima-nya, inilah penderitaan manusia.

Ada seorang biksu yang pembinaan dirinya sering tergoda oleh dunia luar, seperti kita para praktisi rumahan yang sering tergoda oleh ketenaran, kekayaan dan kehormatan.

Sang Buddha memberikan dia sebuah cara untuk membina diri: “Biksu, pikiran kamu mudah kehilangan fokus dan berpikiran yang tidak-tidak. Semua itu bisa terjadi karena kamu tidak menanamkan kata *”Mati”* di pikiran kamu.

Jika kamu memahami bahwa sejatinya kehidupan manusia tidaklah kekal, maka, tidak akan ada sesuatu dari dunia luar yang bisa menggoda kamu.”

*Master:* Yang dimaksud oleh Sang Buddha adalah: Jika kamu selalu memikirkan kata “Mati” di dalam pikiran kamu, maka, tidak akan ada sesuatu yang bisa menggoda kamu.

Mungkin sekarang kalian tidak memahami apa yang Shifu katakan. Sekarang, Shifu akan memberikan penjelasan-nya kepada kalian yah.

Tanpa disangka, ada seorang Raja yang kebetulan mendengar ucapan Sang Buddha kepada muridnya, *Raja ini berpikir:* “Hanya dengan menanamkan kata “Mati” di dalam pikiran bisa membuat dia tidak tergoda oleh apapun? Apakah semudah itu kah?” Raja ini ingin mencoba mempraktekkan-nya.

Kebetulan ada seorang biksu di negara mereka melakukan kejahatan, biksu tersebut berkata: “Biksu juga adalah seorang manusia, walaupun saya berstatus sebagai seorang biksu, lalu, Apakah itu berarti pikiran dan hati mereka tidak akan tergoda oleh kenikmatan dunia luar?” Biksu ini telah melakukan pemfitnahan.

Raja pun mengirim prajurit: “Prajurit, tangkap biksu itu. Jatuhi dia hukuman mati karena telah memfitnah orang suci. Tetapi, jika dia ingin terbebaskan dari hukuman mati, maka, dia harus membawa semangkok madu yang berisi penuh dan berjalan mengitari kota 1x putaran.

Jika dia bisa berhasil berjalan 1x putaran dan tidak ada 1 tetes yang terjatuh, maka, saya akan mengampuni dia dari hukuman mati, jika tidak, hukum mati.”

Raja tersebut mempersiapkan begitu banyak alat musik, penari, lagu-lagu indah, dan perempuan cantik di sepanjang jalan yang akan dilewati oleh terpidana mati.

Biksu terpidana mati membawa semangkuk penuh madu dan mulai berjalan, biksu ini hanya berpikir 1 kata, yaitu *”Mati”* : “Jika saya sampai menjatuhi 1 tetes madu, saya akan mati.”

Sepanjang jalan, yang biksu ini pikirkan hanyalah: “Jangan sampai mati, jangan sampai mati.” Dia terus berjalan setapak demi setapak hingga mencapai garis akhir.

*Raja bertanya:* “Kamu sudah menyelesaikan perjalanan kamu, dan tidak ada setetes madu yang terjatuh. Kamu dibebaskan dari hukuman mati.

Tetapi, Saya ingin bertanya kepada kamu, Apakah kamu tidak mendengar suara apapun di jalanan?”

*Biksu terpidana mati:* “Paduka raja, saya tidak mendengar apapun.”

“Apakah kamu tidak melihat siapapun di jalanan?”

“Tidak melihat siapapun.”

“Apakah kamu tidak mendengar semua nyanyian dan melihat tarian di sepanjang jalan?”

“Paduka Raja, saya memengang semangkuk penuh madu dan jika ada setetes yang terjatuh, saya akan mati.

Jadi, saya terus memikirkan “Mati, Mati, Mati” dan saya tidak mengetahui apa yang terjadi di luar sana.”

*Raja berkata kepada biksu terpidana mati:* “Ternyata apa yang dikatakan Sang Buddha itu benar. Jika hanya memikirkan kata “Mati” dan mengetahui bahwa dunia ini tidak kekal, maka tidak akan ada apapun yang bisa menggoda dia.

Kamu mengatakan biksu juga adalah seorang manusia, dan itu memang benar.

Tetapi, karena para biksu mengetahui bahwa duniawi ini adalah palsu, dan jika ada lahir pasti akan mati, lalu, Untuk apa lagi tergiur oleh godaan 5 hawa nafsu?

Lalu, Mengapa kamu malah masih memfitnah orang suci?”

Setelah biksu terpidana mendengar perkataan raja, dia mulai tercerahkan dan tidak lagi memfitnah Buddha.

Memang kehidupan duniawi itu keras, sepanjang hidup ini, manusia selalu mengalami perubahan dan suasana hati yang berbeda-beda. Setiap hari pasti akan menemui berbagai macam masalah dan seringkali tidak mendapatkan kedamaian hidup.

Semua ini bertujuan agar kita memahami bahwa hidup ini tidak kekal. *Membina diri* adalah Janganlah menyimpan dan mengenang semua penderitaan, selalu berusaha untuk menjaga pikiran walau seberapa besarnya perubahan kehidupan.

*Selalu ingat,* Tidak ada penderitaan yang lebih menderita selain *Mati*.

Jadi, disaat kamu tidak bisa menahan diri terhadap godaan duniawi, *Renungkan kalimat ini:* “Apakah ada yang bisa lebih menderita daripada menghadapi kematian?”

Berpikiran seperti itu bisa membantu kamu melewati satu rintangan hidup.

Jangan pernah menganggap serius hal-hal sederhana yang terjadi di duniawi, karena, memikirkan hal yang tidak perlu dipikirkan hanya akan membuat kamu hidup lebih menderita di dunia ini.

Jika setiap hari kamu terus memikirkan dan merasa sedih atas kesalahan-kesalahan dan perdebatan antara benar dan salah yang dilakukan oleh orang-orang, itu artinya, kamu telah memikul karma mereka.

Jika kamu memang melakukan hal ini, maka, cepatlah bertobat, inilah yang disebut membina diri. Kebahagiaan, Kemurnian dan kesepian itu hanyalah perasaan belaka duniawi.

• Jauhkan diri kamu dari segala perdebatan benar salah duniawi

• Bersihkan kuping kamu dari obrolan-obrolan yang tidak penting

• Jangan sembarangan berucap

• Jangan sembarangan berkomentar

Melakukan semua ini, maka, kebijaksanaan-lah yang akan kamu dapatkan.

Praktisi Buddhis perlu bisa menyelesaikan semua permasalahan duniawi yang ada.

Oranh yang bisa pergi menjauh dari penderitaan dan mendapatkan kebahagiaan adalah Orang Bijak.

Baik-baiklah belajar Dharma, mari kita bersama-sama mencapai 4 alam suci.

Sampai jumpa lagi 👋🏻

白话佛法200620C-第92集(文字)

最后师父跟大家讲一个故事。人生无常,让人想到了生命的真谛,生命的真谛确实是无常。很多人这一关过了,他就活了;这一关死了,也就死了。有多少人就是这么离开了这个世界,哪有什么可以去留恋的?生不带来,死不带去。关于生命,就会让我们想到死亡。我们在人间,没有一个人肯讲自己今后将来怎么办、死了怎么办。虽然死亡是一种无可抗拒的规律,但是它的发生却让人们无法拒绝和接受它,所以人很痛苦。

有一位比丘修行,他的心常为外境所牵动,就像我们现在修行,经常被外面的名、利、色所牵动。佛陀就告诉他修行的方法:“比丘啊,你在修行的时候心易散乱,都没有把‘死’放在心头。假使你能知道人生无常,一切声色外境都不能诱惑你了。”其实佛陀的意思就是告诉他:“你如果把死放在心中,你就不会接受社会上对你的各种诱惑了。”我现在跟你们讲,你们可能还不理解,听师父慢慢给你们道来。

佛陀的话恰巧给一位国王听到了,这国王心想:“只要让佛陀的弟子记住一个‘死’字,他就不会被外境所动了,他的心就定下来了,有这么简单吗?”他就想来试试。正巧他们国家有一个人诽谤比丘,那个人说:“比丘也是人,虽身出家,难道他们的心就不贪恋五欲之乐吗?”他诽谤。国王就派人:“来人啊,把他抓起来。定罪为侮辱圣者,要处以死刑。如果你想免除死刑,现在你拿一钵满满的蜂蜜周游街市一圈,如果你一滴都不滴出来,我就赦免你,否则死罪难饶。”

国王事先在这个罪犯要路过的街市旁边,布置了很多音乐、歌舞,悦耳的琴声、很多如云的美女,让别人看了心都会动的。这时候这个罪人拿了一钵蜜,因为他心中只想到一个“死”字:“如果我今天一滴蜜滴到外面来,我就死定了。”他就这样一直想着:“哎呀,不要死啊,不要死。”他就走完了这整条街。

国王问道:“你走完了,蜜没有滴出来,免你死罪。但是本王想问你,你在街上听到什么声音吗?”

“皇上,没有。”

“你看见有什么人吗?”

“没有。”

“那街上的音乐和歌舞伎,你难道没有听到、没有看见吗?”

“启禀大王,我手中拿了那满满的一钵蜜,如果滴一滴出来就要死,所以我一直把死记在心中,我就不知道外面发生什么了。”

国王对罪人说道:“佛陀说得不错,把‘死’放在心中,知道人生无常,那么一切声色都不能诱惑别人。你说比丘是人,这个固然不错,但因为他们心中知道世事虚幻,生必有死,哪里会贪恋五欲呢?那你为什么要诽谤圣者呢?”那个人听国王一讲,深深地觉悟,从此不再谤佛。

人的一生不会都处在同样的环境和心境下,所以人生坎坷,不是有这样的事就是有那样的事,常常不得安宁。就是让我们懂得人生无常,人不可以把很多痛苦放在心中,外境在变化,你的内心不要变,这就是修行。因为没有一件事情比死更痛苦的,所以当你自己经不起诱惑的时候,你想一想,这比死还难过吗?你可能就越过了一个劫。不要在人间把单纯的事情看得非常严重,因为这样你会很痛苦地活在这个世界上。

你每天可以看见很多众生的过失和是非,那你就会帮他背业,就会感觉到自己很痛苦。如果这样,你赶紧去忏悔,这就是修行。人活在世界上,快乐和清净,甘于寂寞,最主要的都是一种感觉。远离是非自无过,耳根清净拒闲话,常念佛号堵口舌,大道无言心自然。所以不要去随便地讲,不要去随便地评论,那就是有智慧。我们学佛的人就要克服种种烦恼,离苦得乐的人才叫智者。智者为上,愚者为下。好好地学佛,让我们共攀四圣,谢谢大家。