Ketika kita sedang menghadapi suatu masalah, kalimat pertama yang sering diucapkan adalah mengatakan keburukan orang lain, “Kamu Jahat, Kamu tidak baik”, menghina dia, melakukan pekerjaan apapun selalu mengatakan “Kamu tidak baik”, tidak tahu mengalah kepada orang lain.

Harap diingat, jika kamu sering membiarkan dia melakukan perbuatan sesukanya dia yang tidak mau mengalah, sering memaksakan orang untuk menuruti perkataannya.

Orang yang memiliki sikap dan prilaku seperti ini, adalah orang merasa bahwa dirinya selalu benar. Sedangkan Ajaran Dharma mengajarkan kita untuk merubah sifat buruk, menghilangkan keAkuan. Jadi orang yang selalu merasa dirinya benar sangat susah untuk belajar Dharma, dan walaupun dia sekarang sedang mempelajarinya, juga tetap akan susah bagi dia untuk belajar, Akhirnya dia akan menyerah mempelajari Dharma.

Shifu ingin membuat kalian memahami ini, *”Susah untuk menarik kembali benih buruk yang telah tertanam”*, maksudnya adalah setiap saat, setiap menit, setiap waktu kamu terus menanam benih buruk.

Lalu, kamu mengeluh, “Kapan saya melakukan kesalahan kepada dia”, ini adalah kalimat yang sering kalian katakan “Kesalahan apa yang telah saya lakukan kepada dia? Saya tidak tahu kesalahan apa yang telah saya perbuat ke dia, Mengapa dia bersikap buruk kepada saya?”

Tapi, *Kamu tidak memberikan senyuman kepada dia, Ucapan yang kamu katakan terdengar menyebalkan, Kamu hanya memperhatikan perkataan kamu sendiri tanpa memperhatikan orang yang mendengarkan ucapan kamu.*

“Orang yang berbicara tidak sadar atas apa yang dia ucapkan, tetapi orang yang mendengarkannya memperhatikan dia dengan seksama”

Harap diingat, kamu menjelek-jelekan dia di belakangnya, itu berarti telah menanam sebab buruk.

Sama seperti sepasang suami istri yang bertengkar, “Mengapa kamu mengajak saya ribut?”

“Siapa yang suruh kamu mengucapkan perkataan itu?”

“Kapan saya mengatakannya?”

“Tadi kamu katakan, masih tidak mengaku? Tidak sadar apa yang baru saja kamu ucapkan?”

“Kapan saya mengatakannya?”

*Orang-orang yang tanpa sadar telah menanam banyak sebab buruk ini, akan mempengaruhi masa depan dan karir kamu.*

Sering Shifu ingatkan, *musuh terbesar manusia adalah diri sendiri, merubah sifat buruk berarti telah menang berperang melawan diri sendiri.*

Dengan menang peperangan melawan diri sendiri, merubah sifat buruk, maka kamu akan mendapatkan kemenangan atas segala penderitaan di dunia manusia.

Disini, Shifu tidak mengatakan agar kalian menang atas orang lain, tetapi harus memenangkan peperangan diri sendiri atas segala penderitaan, dengan begitu tak ada lagi masalah, kesengsaraan, menang melawan segala penderitaan yang seharusnya kamu dapatkan.

Contohnya: Ketika seseorang memarahi kamu, umumnya kamu akan berbalik marah kan? Ini sangat normal bukan?

Tapi kamu bisa menahan diri, “Saya tidak boleh berbalik marah, karena saya sendiri lah yang merasakan penyakit yang didapatkan karena emosi, Seberapapun hujatan dia, tidak masalah bagi saya karena saya tidak melakukan hal itu.”

Lihat, Sudah bisa menahan diri kan? Selanjutnya masalah akan hilang bukan? Tidak menderita lagi kan?

Jika tidak berpikiran dan menahan diri seperti ini, maka kamu akan menderita dan sengsara.

Shifu akan menjelaskan kepada kalian, *Darimana datangnya kebahagiaan dan kesedihan?* Bahagia dan sedih hanyalah sebuah perasaan.

Disaat kita merasakan sangat bahagia, kita akan tertawa sekencang-kencangnya, sebuah perasaan kan? Lalu, Setelah selesai tertawa, Apakah masih ada? “Barusan saya sangat bahagia dan terus tertawa”,

*Ada berapa orang yang mengingat setelah kalian tertawa?*

Banyak hal lucu yang terjadi di kehidupan kalian, yang dimana kalian akan tertawa ketika mengingat kejadian ini, tetapi, apakah kalian akan mengingat ini terus?

Setelah selesai tertawa, lalu hilang kan, karena ini hanyalah sebuah perasaan.

Semasa muda, kalian pernah melewati kebahagiaan dan kesedihan kan? Dan untuk sekarang ini, itu semua hanyalah sebuah perasaan.

Misalnya, disaat kamu sangat sengsara dan tak bisa mendapatkan solusinya, kamu akan menjadi depresi;

Disaat kamu sangat bahagia, kamu seperti Buddha Maitreya.

Suasana hati manusia terkadang tidak melihat dimana hati itu sedang mengarah kemana. Hati lah menciptakan perasaan bahagia dan kesedihan.

Misalnya, hari ini kamu bahagia, “Saya akan melewati hari ini dengan kebahagiaan”, lihat, bahagia kan.

Disaat “Kamu tidak bahagia”, dan ada orang yang berkata: “Ayo lah, Bahagia lah sedikit, mari kita jalan-jalan keluar.”

“Tidak mau! Saya tidak mau!”

“Ayo lah keluar, bahagia sedikit”

“Tidak mau! Saya tidak senang”

Kalian pernah bersikap seperti ini kan? Sewaktu kecil dulu? Apakah sekarang masih seperti itu? Sangat bodoh kalian sewaktu kecil? Apakah sekarang masih bodoh? Masih tidak berubah sikap?

Shifu ingin menjelaskan kepada kalian, untuk mengontrol dengan baik perasaan dan hal yang terlihat, semua ini adalah perasaan yang tidak berbentuk.

Begitu pikiran tidak bahagia, receptor tubuh akan bereaksi, “Sedang tidak bahagia, Cepat berubah! Berubah! Berubah! Berubah menjadi bahagia! Bahagia! Bahagia!”

Dan ketika terlalu bahagia, “Hati-hati! Hati-hati! Hati-hati!” Sifat manusia adalah: Juga harus merasakan ketidakbahagiaan.

Harus bisa menahan diri dari mengeluarkan semua marah, meluapkan emosi, menyimpan perasaan kesal, karena semua itu akan berbalik ke diri kita sendiri.

Jika kehilangan kontrol untuk meredam perasaan terlalu bahagia, akhirnya malah mendatangkan masalah.

Bodhisattva menjelaskan kepada kita, bahwa ini adalah semua ini adalah sebuah alat penerima perasaan yang tidak berbentuk.

Setiap hari menjalani kehidupan duniawi, kita terikat oleh ketidakberdayaan. Tidak berdaya, Apa yang bisa kita lakukan?

Coba jelaskan kepada saya, begitu banyak bencana, apa yang bisa manusia lakukan? Tidak berdaya kan?

Terjerat oleh kesepian yang melanda. Bukankah manusia itu sangat kesepian? Seorang diri dirumah? Bahkan masih harus memasak nasi dan sayuran, menerima kesengsaraan, pikiran tidak jernih, tidak ada yang bisa diajak berbicara, Kesepian kan?

Setiap hari menjalani kehidupan duniawi, kita terikat oleh ketidakberdayaan. Tidak berdaya, Apa yang bisa kita lakukan?

Coba jelaskan kepada saya, begitu banyak bencana, apa yang bisa manusia lakukan? Tidak berdaya kan?

Terjerat oleh kesepian yang melanda. Bukankah manusia itu sangat kesepian? Seorang diri dirumah? Bahkan masih harus memasak nasi dan sayuran, menerima kesengsaraan, pikiran tidak jernih, tidak ada yang bisa diajak berbicara, Kesepian kan?

Harus menerima kenyataan yang kejam dan tanpa harapan. Coba lihat keadaan sekarang, kalian merasakan dunia ini kejam kan?

Setiap kejadian dan pengalaman yang kita rasakan, bukankah membuat kita merasa bahwa ini sangat kejam dan tidak berprikemanusiaan?

“Bagaimana mungkin bisa terjadi? Begitu banyak orang? Mengapa begitu menderita?”

“Begitu banyak orang sedang sengsara, Apakah kamu pernah mendengar berita ini?”

“Tidak pernah mendengarnya. Mengapa begitu kasihan?”

Tidak ada harapan kan? Memang seperti itu. Dan memang manusia tidak berdaya.

Kita terlahir ke dunia manusia ini, Sebenarnya apa sih yang bisa kamu miliki? Mengapa kamu harus menerima beban begitu banyak? Merasakan kesengsaraan, penderitaan, permasalahan, kesepian? Inilah manusia yang memang harus menerima semua beban ini.

Dimana kebahagiaan? Dimana kesedihan?

Dan begitu kedua kakimu melangkah, Dimanakah kebahagiaan itu sekarang? Dan dimanakah kesedihan itu berada?

Di lubuk hati kamu yang terdalam, sebenarnya kamu mengerti bahwa semua ini adalah ilusi, tidak kekal, dan asalkan hati tidak memiliki alat penerima perasaan maka tidak akan ada perasaan apapun.

Asalkan sebelum meninggal kamu sudah tercerahkan, maka kamu baru bisa merasakan paradoks kehidupan, seperti berada diantara hidup dan mati dan merasakan antara ada dan tidak ada.

Hati manusia sungguh menarik kan?

“Saya mendengar si A sedang tidak bahagia”, seseorang berkata kepada kamu.

“Tidak, saya barusan saja berbicara dengan si A, dia terdengar bahagia”

“Loh, kenapa tiba-tiba barusan tadi sedih lagi?”

Kenapa bisa seperti ini? Karena sebentar dapat suatu barang, lalu hilang lagi;

Sebentar bahagia, lalu sedih lagi, dan tak lama sedihnya hilang lagi….

Memang manusia hidup antara ada dan tiada, hidup dalam pilihan dan tidak ada pilihan, hidup antara bahagia dan kesedihan, terus menjalani kehidupan yang tidak kekal ini.

Pikiran manusia terkadang jernih, terkadang kacau, semua ini disebabkan oleh pengaruh dari faktor lingkungan luar.

Sangat sulit bagi Shifu untuk menyelamatkan manusia, saya sering membantu para umat merubah cara berpikir mereka, agar mereka terbebaskan, menjelaskan kepada para umat bagaimana menggunakan kebijaksanaan Bodhisattva untuk menyelesaikan permasalahan duniawi.

Dan setelah memberikan nasehat, mereka berkata, “Shifu, sekarang saya sudah mengerti, Sungguh, sekarang saya sangat bahagia, sudah bisa berpikir dengan baik. Saya pasti akan baik-baik mendengar nasehat Shifu.”

Shifu membalas “Rubahlah sifat kamu menjadi lebih baik lagi.”

Tapi, di hari kedua, “Aduh, kenapa saya lagi-lagi….” (Umat)
Sudah berubah lagi, padahal sudah dinasehati, inilah yang namanya tidak kekal.

Sering saya ceritakan kisah ini, ada sepasang suami istri yang terus bertengkar sejak lama, hingga akhirnya memutuskan untuk bercerai karena sudah jenuh bertengkar.

“Ayo pergi”
“Boleh, Kita pergi bareng!”

Pertengkaran sepasang suami istri ini sangat hebat dan mereka berkata

“Bercerai sajalah! Sekarang juga pergi ke Departemen Agama!”

Walaupun di desa kementrian agama sangat dekat tetapi karena tidak ada alat transportasi mereka berjalan kaki.

Saat itu, mereka berdua berjalan dan tiba di depan sebuah kolam besar yang tidak bisa di sebrangi, sang suami berkata: “Saya gendong kamu ke sebrang sana yah”

Lalu bagaimana dengan sang istri? Dia naik ke punggung suami dan pergi. Kemudian hujan turun dan setelah tiba di sebrang kolam, sang istri berkata, “Suamiku, kita pulang saja yah, saya masih merasa kamu sangat baik.”

Hidup memang seperti ini, terus berubah di dalam ketidakekalan, terus dan terus berubah.

Kalian semua tahu kalau perubahan bisa menyakiti diri sendiri kan?

Saya tanya kalian, ini terlalu asin, itu terlalu tawar, dan setelah mencicipi makanan itu terasa sangat asin, kemudian menambahkan gula, jadi kemanisan, tambahkan garam lagi, lalu gula lagi, garam lagi…. setelah beberapa kali, akhirnya makanan ini menjadi garam dan merica saja.

Manusia memang seperti itu.
Perasaan memang seperti itu.
Hati juga seperti itu.

Yang terpenting adalah menggengam erat saat ini, “Merasakan kebahagiaan disaat bahagia, Merasakan penderitaan disaat menderita.”

Inilah alasan mengapa Bodhisattva melihat manusia sungguh menarik, sebentar terburu nafsu, sebentar tenang, semua ini karena dampak faktor lingkungan luar.

*Jika sering sakit, juga dikarenakan terkena dampak faktor lingkungan luar.*

Menerima ucapan seseorang bisa membuat suasana hati kita berubah.

Bisa dibayangkan, seberapa besar faktor lingkungan luar terhadap kita?

Disaat mendengarkan perkataan yang menyentuh perasaan kamu, dan akhirnya menimbulkan hasrat keinginan, “Ayo beli! Barang ini sangat bagus, sangat murah, nanti akan naik!”

Timbulah hasrat keinginan dan kamu membelinya.

Dan kamu ada berada di dalam pusaran hasrat keinginan ini untuk berebut, berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkannya, dan berakhir dengan menjebak diri sendiri.

Sudah hampir 1 jam Shifu menjelaskan Dharma kepada kalian, Kalian sangat senang mendengarkannya kan?

Disaat seseorang bahagia, waktu akan terasa cepat berlalu.

Jika saya meminta kamu untuk duduk diam disana tapi kamu tidak bisa diam, itu seperti sebuah hukuman;

Tapi jika bisa duduk diam, itu seperti meditasi duduk.

Apakah kalian tahu, bahwa apa yang sedang kalian lakukan saat ini ada meditasi duduk?

Dengan tenang duduk disana, selama 1 jam Shifu menjelaskan Dharma tidak memikirkan apapun, waktu terasa cepat kan.

Tapi jika kalian terus memikirkan masalah ini…. “Besok memikirkan masalah pekerjaan, anak, rumah tangga, membeli barang ini…”, kamu tidak bisa tenang, dan akan mempengaruhi pelatihan diri kamu.

*Apa yang dimaksud dengan Chan Xiu?* Yaitu, melatih diri dengan duduk tenang.

Dan jika bisa tenang, maka disebut *”Chan Ding”*, jika kalian sudah bisa mencapai tingkat ini maka kamu akan mendapatkan kebijaksanaan Bodhisattva.

Ada sebuah cerita, ada seorang biksu muda yang tinggal di sebuah vihara di desa, kemudian ada umat yang mempersembahkan dia jubah biksu.

(Di jaman dahulu boleh mempersembahkan apapun kepada biksu, sama seperti mempersembahkan makanan kepada biksu di jaman sekarang. Ada umat yang mempersembahkan jubah biksu ke biksu muda ini. Mereka boleh menerimanya).

Kemudian, biksu muda ini memutuskan untuk mempersembahkan salah satu baju ini kepada biksu senior.

(Ketua vihara, Guru, yang juga adalah paman dia).

Setelah kembali ke Vihara, biksu muda mencari biksu senior dan memberikan jubah ini kepadanya.

Biksu senior berkata: “Saya sudah mempunyai banyak jubah.” Menolak pemberian jubah biksu muda ini.

Walaupun biksu muda memohon dengan sangat untuk menerima hadiahnya, tetap saja ditolak: “Tidak mau”. Dengan tegas mengatakan tidak mau menerima pemberiannya.

Biksu muda merasa sedih, mengira tidak menerima pemberiannya berarti tidak menyukainya.

(Jadi, ini sebagai sebuah pembelajaran bagi kalian, ketika kita memberikan sebuah hadiah dan ditolak, kamu akan merasa tidak nyaman.

Jika kamu setulus hati memberikan hadiah kepada dia dan dia menerimanya, ini adalah sebuah bentuk penghormatan.

Terutama bagi beberapa orang yang ketika diberikan hadiah, lalu mereka melihat-lihat dan berkata: “Tidak mau tidak mau”. Bukankah itu sedang mempermalukannya?

Tapi jika kamu tidak melihat pemberian dan langsung mengatakan: “Tidak usah, tidak perlu memberikan apapun kepada saya.” Ini memiliki makna yang berbeda.

Kamu harus dengan senang hati menerima pemberian hadiah orang lain, karena ini adalah sebuah tata krama, sebuah ketulusan hati. Jika kamu menolaknya, dia bisa sakit hati.)

Biksu muda ini merasa sedih, merasa pamannya tidak menyukai dia, bahkan dia sampai merasa pamannya yang menolak dengan tegas pemberian persembahan kebutuhan pokoknya, dan berkeinginan untuk kembali menjadi orang biasa, “Untuk apa saya mengikuti kamu melatih diri? Kamu tidak menyukai saya, saya ingin kembali menjadi orang biasa.”

Lebih baik menjalani kehidupan seperti orang biasa, tak lagi menjadi seorang biksu.

Sejak saat itu, dia terus membayangkan apa yang akan dia lakukan jika kembali menjadi orang biasa: “Saya akan menjual peralatan biksu dan membeli seekor kambing betina, kemudian berternak kambing, dan ketika mempunyai pendapatan yang cukup, saya akan mencari istri.

Kemudian, mengunjungi pamannya dengan membawa istri dan anak-anaknya, ‘Lihat saya telah mempunyai istri dan anak, say telah mempunyai segala-galanya’.

Bahkan dia juga membayangkan, dalam perjalanan, dia akan memberitahu kepada istrinya, “Biarkan saya yang menjaga anak”

Tetapi istrinya meminta dia untuk fokus berkendara, dan tidak usah mempedulikan anak-anaknya.

Tapi dia bersikeras untuk menjaga anak-anaknya dan merebut mereka dari sang istri. Dan akhirnya anaknya terjatuh dan terlindas oleh ban.

Dia sangat marah dan mengambil tongkat memukuli istrinya.

Sebenarnya semua ini hanyalah sebuah cerita khayalan pikiran dia saja, padahal saat itu dia sedang memegang kipas dan mengipasi pamannya.

Karena dia sedang menghayal, tak sengaja memukul kepala pamannya dengan kipas.

Tetapi biksu senior ini sangat bijaksana dan hebat, dia mengetahui bahwa biksu muda ini sedang menghayal yang tidak-tidak, lalu berkata: “Kamu tidak boleh memukul istri, lalu untuk apa memukul saya?”

Karena biksu senior mengetahui apa yang sedang ia pikirkan.

Begitu biksu muda mendengar perkataan beliau, merasa biksu senior sangat hebat, dia pun terkejut, dan tak jadi meninggalkan vihara.

Tetapi biksu senior ini berhasil membawa biksu muda untuk menemui Sang Buddha.

Setelah Sang Buddha memahami apa yang terjadi, dengan welas asih mengatakan kepada biksu muda: “Pikiran manusia mudah tergoyahkan, walaupun itu adalah benda yang jaraknya jauh dari kita, tetapi tetap bisa membuat pikiran kita berpikir yang tidak-tidak.

Inilah alasan mengapa seseorang harus berusaha untuk membuat dirinya terbebaskan dari tiga racun duniawi, yaitu keserakahan, amarah dan kebodohan.”

Bukankah biksu muda ini memiliki keserakahan hati? Jadi harus bisa terbebaskan dari ini, barulah bisa memiliki harapan untuk sukses.

Baiklah, Sampai disini Shifu mengajarkan kepada kalian. Semoga kalian semua bisa terus tekun dan giat dalam mempelajari Dharma, bisa membuat hati tenang.

Walaupun perubahan yang terjadi pada faktor lingkungan luar, tapi hati harus tetap tak tergoyahkan, bisa menenangkan pikiran, maka pikiran kamu bisa seperti air.

Terima kasih kepada kalian semua.

https://xlch.org/category/audio/dt/guangbo/3199.html?t=1590988556355