Telp Pria: Shifu, di BHFF buku pertama bab 11 judul “Perbedaan antara kebaikan dan pahala”, tertulis: “Asalkan berikrar di depan Buddha Bodhisattva, maka semua perbuatan kebaikan baru akan terhitung sebagai pahala, jika tidak semua perbuatan itu hanya akan dianggap sebagai kebaikan”

Sedangkan di BHFF buku ke 11, Bab 23 judul “Mari membahas lagi mengenai perbedaan antara kebaikan dan pahala”, di bab itu tertulis: “Melihat sifat asli adalah pahala.”

Ingin bertanya Shifu, apakah perbedaan kedua hal ini terletak pada tingkat kesadarannya yah?

Master: Betul. “Melakukan kebaikan demi kebaikan”, Ini disebut kebaikan awal.

Tetapi tingkat kesadaran yang dicapai oleh para praktisi Buddhis, yang dimana mereka melakukan kebaikan demi semua makhluk, demi membantu sesama, demi menyelamatkan semua makhluk, ini baru disebut dengan kebaikan yang sesungguhnya.

Apa yang dimaksud dengan “Kebaikan yang sesungguhnya?” Kebaikan ini berasal dari sifat dasarnya.

Kata “Sesungguhnya” ini memiliki makna “Sifat dasar”

Lalu, darimana asal sifat dasar ini? Datangnya dari alam bawah kesadaran tingkat 9, yaitu sifat keBuddhaan.

Telp: Shifu, bagaimana dengan kita melakukan pahala karena ingin mendapatkan pahala? (Melakukan pahala karena memiliki tujuan tertentu)

Master: Mereka tetap akan mendapatkan pahala, hanya saja ada kebocoran pahala.

Telp: Berapa banyak?

Master: Sedikit kebocorannya.

Telp: Berapa persen kebocorannya?

Master: Saya berikan contohnya dan baru saya beritahu berapa persen-nya yah.

Misalnya, kamu bekerja sebagai sukarelawan yang bertugas menjaga ketertiban, mengenakan seragam sukarelawan, seharusnya bisa mendapatkan 100% pahala.

Tetapi, kamu menjadi seorang sukarelawan karena memiliki tujuan tertentu yaitu demi anak kamu yang menderita kelumpuhan otak, baru mau menjadi sukarelawan dan berbuat pahala, maka pahala ini akan terpotong 5% , tetapi tetap mendapatkan 95%

Jika kamu berkata kepada orang-orang, “Lihat, saya bisa menjadi seorang sukarelawan yang dimana kalian tidak bisa melakukannya karena kalian sudah berumur, mundur lah kalian semua ke belakang….”

Atau seperti (Dengan ekspresi mengeluh), “Aduh, ayo kalian berdiri dengan baik yah, kalian…… (mengeluh)”

Jika bersikap seperti itu, maka pahala akan terpotong 10-15%. Tetapi, masih tetap mendapat pahala.

Telp: Shifu, bagaimana jika seorang sukarelawan yang sombong dan angkuh, tidak bekerja sesuai dengan aturannya, Apakah ia tetap mendapatkan pahala? Atau kah dia malah mendapatkan karma buruk?

Master: Jika dia hanya bersikap sombong dan angkuh, tetapi masih sesuai dengan aturan, hanya akan terpotong 10% dan tidak lebih banyak dari 20%.

Telp: Sudah mengerti.

Master: Jadi, asalkan kamu menjadi seorang sukarelawan, pasti akan tetap dapat pahala.

Ada beberapa pemimpin sukarelawan yang suka berbicara ini dan itu, tetapi bisa kamu lihat bahwa kehidupannya di segala hal masih lancar, Lalu Kenapa masih ada orang yang mau mendengarkan perkataan dia? Karena Walaupun pahalanya terpotong, tapi sangat sangat sedikit. Asalkan dia tidak menyerang dan berantem dengan orang lain saja.

Telp: Shifu, jika memutuskan jiwa kebijaksanaan seseorang, (Membuat orang berhenti belajar Dharma) Apakah ini akan menambah karma buruk?

Master: Jika melakukan perbuatan ini, maka pahalanya akan terpotong sangat banyak.

Misalnya, kamu mengetahui bahwa dia masih memiliki keyakinan, sepenuhnya kamu boleh membantu dia.

Disaat kamu membantu dia dan tidak melakukan pekerjaan dengan benar, membuat dia merasa benci dengan kamu, membuat dia malu dan tidak ada harga diri, membuat dia berhenti belajar Dharma, maka itu berarti kamu telah memutuskan jiwa kebijaksanaan dia.

Dan akibat dari melakukan ini tidak sedikit, setidaknya hilang 50%, sangat banyak kan.

Maka dari itu, disaat seorang biksu melihat bahwa ia tidak bisa membantu orang ini, dia hanya berkata, “A Mi Tuo Fo.”

Di masa Sang Buddha masih ada, begitu Sang Buddha melihat bahwa orang ini tidak bisa ia tolong, Sang Buddha akan berkata, “Shan Zhai, Shan Zhai”.

Semua orang di masa Sang Buddha terus mengatakan “Shan Zai Shan Zai”. Saat itu aliran Jing Tu masih belum ada, dan kebanyakan dari mereka mengatakan “Shan Zai, Shan Zai.”

Telp: Baik, sudah mengerti.

Wenda20171119A   35:47  
初善和真善有何区别;做义工时功德有漏的问题
男听众:师父,您在《白话佛法》第一册第十一篇“善事与功德的区别”里讲,“只要在佛菩萨面前许过愿后做的善事才算做功德,否则只是做善事”。而师父在《白话佛法》第一册第二十三篇“再谈善事和功德的区别”里讲“见性是功”。请问师父,两者差别的根本是不是境界问题呢?
台长答:就是境界问题。为善而行善,此乃初善。为自己学佛后的境界,为了众生,为了帮助、救度众生而行善,此乃真善。真善什么意思?真善就是已经完全脱离了善,已经是功德了。真正的善是什么?从本性来的。“真”是什么?真如本性。真如哪里来的?真如从第九意识佛性这里来的(师父,为做功德而去做功德呢?这是什么呢?)这也算有点功德的,只是这个功德有漏(漏多少?)漏很少(百分之多少?)我要举个例子,我才能跟你讲百分比。比方说叫你做义工,你在那里维持秩序,穿着义工服,应该得到100%的功德。但是,你今天要做这个义工,是为了孩子的脑瘫来做这功德的,5%的有漏,你拿到95%。如果你说跟大家说“你看我能做义工,你们都不能做了,你们年纪大了,都退到后面去了”怎么怎么,然后为了显化,“哎,大家站好了,你们……”好了,那功德漏掉10%~15%。你还是有功德的(师父,如果做义工贡高我慢,没有做不如理不如法,还有功德吗?还是业障多了?)他只要不做不如理不如法的事情,他有一些贡高我慢,也就是10%,最多不到20%(明白了)所以我告诉你,只要做了义工,一定有功德。我们有些义工的领头,在这里讲东讲西的,你看他怎么各方面还是这么顺利,这么多人还是听他的?功德就算有漏,很少。你只要不要冲上去打人就可以了(师父,如果断一个人的慧命,这个业障会增加多少?)那这个功德大损。比方说你知道这个人还在信,你完全可以帮助他,你在帮助他的时候不恰当,让他恨了,让他觉得丢脸了、没面子了,他不学了,那么你就损害自己的慧命了,毁掉他的慧命了。那不是一点点了,至少50%没了,很厉害的。所以很多法师度人一看度不了,他就“阿弥陀佛”了。佛陀当年在人间的时候,一看度不了的人,他就“善哉,善哉”。佛陀当年全部说“善哉”,那个时候净土宗还没出来的时候,大家一般都是“善哉,善哉”的(好的,明白)